<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-4683969230623021230</id><updated>2012-02-16T13:27:24.268+07:00</updated><title type='text'>Welcome to Sekam Art Gallery</title><subtitle type='html'>Sesuatu yang indah tidak semuanya bermula dari yang indah.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://sekamart.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4683969230623021230/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sekamart.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Sekam Art</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03351574825352934113</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://bp3.blogger.com/_PVt9-EJCYe0/R5HysCyc9iI/AAAAAAAAAAg/qOywEKwt6uU/S220/Sunset.bmp'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>29</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4683969230623021230.post-267497202364296598</id><published>2011-10-25T15:58:00.000+07:00</published><updated>2011-10-25T15:58:46.708+07:00</updated><title type='text'>Penguasa Cinta Yang Tak Pernah Berhasil (Part II)</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormalCxSpFirst" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Hari itu awal bulan Maret 2008. Gegap gempita pesta demokrasi terasa sampai di kampung itu. Semarak spanduk maupun umbul-umbul turut meramaikan sepanjang jalan desa. Berisi visi misi dan juga slogan-slogan cagub dan cawagub Sumatera Selatan. Sebagai wong cilik masyarakat tidak menginginkan harapan yang terlalu muluk. Setidaknya taraf hidup yang lebih baik. Nyaman aman dan berkeadilan. Bagaimana agar orang-orang desa juga bisa merasakan seperti apa kenyamanan dan fasilitas di perkotaan. Listrik. Sesuatu yang sangat penting itu belum merambah mereka. Walau sudah ada provider telekomunikasi yang telah menanamkan towernya di sekitar sana. Dengan sinyal satu sampai dua batang. Jadilah, sebagai penyambung informasi. Menggeser korespondensi, yang kini sudah digantikan dengan SMS. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Suratin tampak ikut sibuk, ia juga memasang bendera besar di halaman rumahnya. Bendera sebuah partai yang mengusung salah satu pasangan calon gubernur lima tahun mendatang. Padahal beberapa hari lagi memasuki masa tenang. Ia tidak peduli. Bahkan di kampung tempat tinggalnya juga tidak ada yang peduli. Hari H pilkada itu tiba. Suratin menjadi pemantau pemilu, ia ditunjuk salah satu partai koalisi untuk mengamati jalannya pemilu. Bukan honornya yang diharap, ia bisa menjadi perhatian warga. Mengunjungi TPS, mengecek kondisi di lapangan. Tentunya ia dapat bertemu Entik, yang dari pagi sudah memegang undangan. Sekaligus merekomendasikan satu pasangan untuknya. Tapi ternyata mereka sudah satu visi. Pilihannya jatuh pada calon yang sama. Tidak sampai sore penghitungan suara telah selesai, Jagoan Suratin menang telak. Namun di tingkat propinsi ia harus mengakui bahwa pesaingnya jauh lebih unggul. Tidak masalah baginya. Siapapun yang memimpin semoga kelak bisa menepati janji. Dan membawa seluruh rakyat semakin sejahtera. Kekalahan partainya hari itu justru menjadi kemenangan bagi Suratin. Entik menerima cintanya. Tanpa mengharap banyak permintaan. Panen raya telah selesai merekapun merayakan pesta pernikahan. Ya. Pernikahan di kampung transmigrasi. Tidak ada gedung mewah apalagi dekorasi indah. Hanya tenda biru terbuat dari terpal, dekorasinya janur yang telah menghijau melengkung berbentuk gapura. Menghiasi tiang tenda. Begitulah gambaran tradisi di sana yang sudah berpuluh-puluh tahun lamanya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Sebenarnya keputusan itu terlalu cepat bagi Entik, menerima cinta Suratin. Ia terbakar emosinya saat ucapan Rambat mendengingkan telinganya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;“Sebentar lagi aku nikah. Sama kang Dirjo” ucap adiknya suatu hari. Tiba-tiba Entik merasa terusik. Ia tidak mau didahului adiknya. Dilangkahi. Pilihannya jatuh pada Suratin. Laki-laki berpostur tubuh kecil dan berkulit cokelat. Meski berjemur setiap hari ia tidak terlihat sangat gelap. Mungkin karena warna dasar kulitnya yang putih. Cukup lumayan, sebenarnya Suratin belum seratus persen sesuai dengan kriterianya. Ia akan mencoba melangkahkan kaki, kata orang witing tresno jalaran kulino. Tumbuhnya cinta karena adanya kebiasaan. Tidaklah sombong, sebenarnya sudah banyak yang berdatangan ingin menyunting atau sekadar menjajagi hubungan bersama Entik. Perempuan itu sangat selektif. Ia tidak mudah jatuh cinta. Meski sebenarnya ia sudah banyak menguasai cinta dari laki-laki. Sesuatu yang sangat mengejutkan, ketika Entik melabuhkan hatinya pada Suratin. Sederetan nama laki-laki seperti telah kebakaran jengot. Bahkan merasa tidak terima bila harus Suratin yang mendampingin kembang desa itu. Janur sudah melengkung, tenda biru sudah mengembang. Entik dan Suratin resmi berpasangan. Sesaat orang-orang yang telah kebakaran jenggot itu terdiam.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; text-align: center; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Matahari sore itu bersinar mulai redup, menyiram warna emas di anak cabang sungai Musi. Beberapa tower BTS terlihat menjulang dengan lampu yang berkelap kelip. Entik berdiri di tepi jembatan penghubung Muara sugihan-Muara Padang. Jembatan itu begitu kokoh dengan tiang beton dan kerangka baja. Menjadi tempat berkumpulnya pasangan muda menghabiskan waktu, menikmati panorama sore. Langit semakin jingga, matahari kian jauh bersembunyi di balik rimbunan kebun kelapa. Dan juga tumbuhan liar yang sebentar lagi menjadi hutan, membentang seluas mata memandang. Kini jalan akses menuju kota telah terhubung, tiang listrik berderet di sepanjang jalan itu. Meski belum menerangi kampungnya. Di jalur 16.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;“Aku mencintai mu..” ucap lelaki di sampingnya lirih. Membisikan perasaan hati dekat daun telinga Entik. Ia terdiam menyandarkan&amp;nbsp; kepalanya di dada laki-laki itu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;“Aku juga” jawabnya lirih. Nyaris tidak sanggup mengungkap kata.&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Matanya &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;menahan suatu rasa yang teramat pedih. Dibendungnya hingga lensanya berkaca-kaca. Ia telah menghianati suaminya. Meski telah meninggal satu setengah tahun lalu. Kematiannya menyisakan tanya. Ketika ia berusaha untuk menumbuhkan cintanya. Sang suami. Suratin. Malah menenggak racu rumput, ia tidak tertolong dengan sekujur tubuh membiru. Konon kematian suaminya itu karena tidak tahan diintimidasi oleh segelintir orang yang tidak setuju atas pernikahannya. Hidupnya tertekan, walau&amp;nbsp; hubungan mereka terlihat berjalan seperti biasa. Telah lahir pula putri cantik, buah dari hasil perkawinan mereka.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Hari sebentar lagi gelap. Langit hanya menyisakan segurat warna merah yang memantul di sisi jauh sungai Musi. Entik tidak sanggup menguasai cintanya. Ia telah gagal menjadi istri dan ibu yang baik. Kini iapun meletakkan cinta pada singgasana yang salah. Laki-laki di sampingnya, adalah seorang suami yang telah memiliki satu orang anak. Adzan berkumandang, ia tidak sanggup menahan sesal itu. Matanya sembab. Masih berkaca-kaca. Ingin rasanya berlari, memeluk erat si buah hati. Ia sejenak&amp;nbsp; memejamkan mata. Tidak lagi merapat di tubuh laki-laki. Hatinya berteriak. Tuhan tolonglah aku..!.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 150%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4683969230623021230-267497202364296598?l=sekamart.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4683969230623021230/posts/default/267497202364296598'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4683969230623021230/posts/default/267497202364296598'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sekamart.blogspot.com/2011/10/penguasa-cinta-yang-tak-pernah-berhasil.html' title='Penguasa Cinta Yang Tak Pernah Berhasil (Part II)'/><author><name>Sekam Art</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03351574825352934113</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://bp3.blogger.com/_PVt9-EJCYe0/R5HysCyc9iI/AAAAAAAAAAg/qOywEKwt6uU/S220/Sunset.bmp'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4683969230623021230.post-7043912803895401240</id><published>2011-10-24T19:07:00.000+07:00</published><updated>2011-10-24T19:07:11.839+07:00</updated><title type='text'>Kematian Beruntun Part 2</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #333333; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 19px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="background-attachment: initial; background-clip: initial; background-color: transparent; background-image: initial; background-origin: initial; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-size: 12px; margin-bottom: 0pt; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="background-attachment: initial; background-clip: initial; background-color: transparent; background-image: initial; background-origin: initial; border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-size: 12pt; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;span style="background-attachment: initial; background-clip: initial; background-color: transparent; background-image: initial; background-origin: initial; border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; color: black; font-size: 16px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;span style="background-attachment: initial; background-clip: initial; background-color: transparent; background-image: initial; background-origin: initial; border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-family: 'Times New Roman'; font-size: 16px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;span style="background-attachment: initial; background-clip: initial; background-color: transparent; background-image: initial; background-origin: initial; border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-size: 16px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Tiga hari kemudian.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="background-attachment: initial; background-clip: initial; background-color: transparent; background-image: initial; background-origin: initial; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-size: 12px; margin-bottom: 0pt; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="background-attachment: initial; background-clip: initial; background-color: transparent; background-image: initial; background-origin: initial; border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; color: black; font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Jam setengah delapan malam, saat Heri melirik jam di pergelangan tangannya. Beberapa ratus meter lagi ia tiba di pintu gerbang tempat dia tinggal. Perlahan ia mulai mengurangi kecepatan mobilnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="background-attachment: initial; background-clip: initial; background-color: transparent; background-image: initial; background-origin: initial; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-size: 12px; margin-bottom: 0pt; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="background-attachment: initial; background-clip: initial; background-color: transparent; background-image: initial; background-origin: initial; border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-size: 12pt; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;span style="background-attachment: initial; background-clip: initial; background-color: transparent; background-image: initial; background-origin: initial; border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; color: black; font-size: 16px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;span style="background-attachment: initial; background-clip: initial; background-color: transparent; background-image: initial; background-origin: initial; border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-family: 'Times New Roman'; font-size: 16px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;span style="background-attachment: initial; background-clip: initial; background-color: transparent; background-image: initial; background-origin: initial; border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-size: 16px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;“Aduh lupa,..” lelaki bertubuh tambun itu memukul dengan pelan setir mobilnya. Mengekspresikan kekecewaan. Sebab ada sesuatu yang terlupakan. Devi istrinya minta dibelikan jagung bakar yang terdapat tepat di seberang jalan tempatnya bekerja.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="background-attachment: initial; background-clip: initial; background-color: transparent; background-image: initial; background-origin: initial; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-size: 12px; margin-bottom: 0pt; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="background-attachment: initial; background-clip: initial; background-color: transparent; background-image: initial; background-origin: initial; border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; color: black; font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Sial. nggak mungkin aku balik lagi” gerutunya. Sesaat sebelum memasuki komplek perumahan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="background-attachment: initial; background-clip: initial; background-color: transparent; background-image: initial; background-origin: initial; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-size: 12px; margin-bottom: 0pt; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="background-attachment: initial; background-clip: initial; background-color: transparent; background-image: initial; background-origin: initial; border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; color: black; font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Tampak oleh pandangan Heri tiga atau empat orang berdiri di serambi masjid. Dan beberapa orang lainnya sedang menyiapkan keranda dengan pemandian mayatnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="background-attachment: initial; background-clip: initial; background-color: transparent; background-image: initial; background-origin: initial; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-size: 12px; margin-bottom: 0pt; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="background-attachment: initial; background-clip: initial; background-color: transparent; background-image: initial; background-origin: initial; border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; color: black; font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Siapa yang meninggal pak,..? Tanya Heri sambil membuka kaca mobilnya kepada Pak Yusuf. Selaku ketua persatuan amal kematian. Yang didampingi pak RT dan juga ki Hasan Syarkowi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="background-attachment: initial; background-clip: initial; background-color: transparent; background-image: initial; background-origin: initial; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-size: 12px; margin-bottom: 0pt; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="background-attachment: initial; background-clip: initial; background-color: transparent; background-image: initial; background-origin: initial; border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; color: black; font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Basirun” jawab Pak Yusuf.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="background-attachment: initial; background-clip: initial; background-color: transparent; background-image: initial; background-origin: initial; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-size: 12px; margin-bottom: 0pt; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="background-attachment: initial; background-clip: initial; background-color: transparent; background-image: initial; background-origin: initial; border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; color: black; font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;“Innalillahi…..kalo begitu saya pulang dulu pak, nanti saya segera ke sini atau kalau tidak saya langsung ke rumah almarhum Pak Basirun.” Sambungnya. Sambil kembali menutup kaca mobil. Heri tidak beranjak dari mobilnya, sebab jalan dan halaman masjid memang tanpa sekat. Hanya beberapa meter saja. Bagi mereka sudah cukup leluasa untuk saling berbicara.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="background-attachment: initial; background-clip: initial; background-color: transparent; background-image: initial; background-origin: initial; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-size: 12px; margin-bottom: 0pt; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="background-attachment: initial; background-clip: initial; background-color: transparent; background-image: initial; background-origin: initial; border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; color: black; font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Di rumah. Heri segera mengambil buku anggota amal kematiannya. Dan bergegas menuju rumah duka. Yang hanya berjarak tidak lebih dari lima puluh meter. Tepatnya rumah ke tiga sebelah kiri. Setelah membayarkan beberapa ribu rupiah iuran amal kematian. Heri segera masuk ke dalam rumah ahli musibah. Dalam hal ini adalah Ibu Yun, dan kelima anaknya yang sudah berkumpul. Kebetulan anak-anaknya juga tinggal di kota yang sama. Eka andriyani dan Aisyah sudah menikah mereka tinggal bersama suami. Sementara Fani, Riza dan Opik masih lajang. Ketiganya mengelola usaha begkel bak truk yang dirintis oleh sang ayah.&lt;span style="background-attachment: initial; background-clip: initial; background-color: transparent; background-image: initial; background-origin: initial; border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-size: 16px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Ibu Yun terlihat belum siap menerima kenyataan. Ia sesekali menangis histeris, akan tetapi kelima anaknya dan beberapa kerabat terus memberikan supportnya. Bagaimana pun juga hidup harus menghadapi sebuah kenyataan. Berbeda dengan Ibu Mardiana, istri Pak Amin almarhum, begitu tegar sabar dan mengihlaskan kepergian suaminya tiga hari yang lalu. Itu bukan berarti Ibu Mardiana tidak sayang kepada suami, akan tetapi sudah berkali-kali Pak Amin mengingatkan agar kepergiannya kelak jangan ada yang meratapi. Seperti ia tahu saja akan kematiannya. Mesti begitu manusia hidup. Mengingat mati. Dengan&amp;nbsp;&lt;span style="background-attachment: initial; background-clip: initial; background-color: transparent; background-image: initial; background-origin: initial; border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-size: 16px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;tidak meratapi kematian mampu meringankan langkah kaki dan jalan yang lapang saat menghadap Sang pemilik Hidup. Tuhan semesta alam.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="background-attachment: initial; background-clip: initial; background-color: transparent; background-image: initial; background-origin: initial; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-size: 12px; margin-bottom: 0pt; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="background-attachment: initial; background-clip: initial; background-color: transparent; background-image: initial; background-origin: initial; border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; color: black; font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Suasana duka semakin terasa saat jenazah akan dimandikan. Ki Haji Hasan Syarkowi telah menyiapkan segala sesuatunya. Mayat&amp;nbsp; pun diangkat. Terbaring lemah tak berdaya dengan jemari yang dingin, tubuh yang kaku.&lt;span style="background-attachment: initial; background-clip: initial; background-color: transparent; background-image: initial; background-origin: initial; border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-size: 16px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Heri menatap wajah mayat Pak Basirun putih pasi meski tubuhnya gemuk. Tiga hari yang lalu ia masih bercengkerama makan malam dan pesta bersama warga. Hari ini ia telah pergi untuk selamanya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="background-attachment: initial; background-clip: initial; background-color: transparent; background-image: initial; background-origin: initial; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-size: 12px; margin-bottom: 0pt; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="background-attachment: initial; background-clip: initial; background-color: transparent; background-image: initial; background-origin: initial; border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; color: black; font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Heri tertegun sejenak beberapa kali ia mengusir rasa takut itu. Tentang dosa, tentang kesalahannya. Namun bayangan manusia yang ditabraknya tiga hari lalu selalu melintas. Memenuhi otaknya. Sesekali terlintas di benakknya agar segera menyerahkan diri ke polisi. Tapi menurutnya itu sama saja menggali lubang kubur sendiri. Ia pasti akan terbuang di balik jeruji besi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="background-attachment: initial; background-clip: initial; background-color: transparent; background-image: initial; background-origin: initial; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-size: 12px; margin-bottom: 0pt; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: center; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="background-attachment: initial; background-clip: initial; background-color: transparent; background-image: initial; background-origin: initial; border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; color: black; font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="background-attachment: initial; background-clip: initial; background-color: transparent; background-image: initial; background-origin: initial; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-size: 12px; margin-bottom: 0pt; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="background-attachment: initial; background-clip: initial; background-color: transparent; background-image: initial; background-origin: initial; border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; color: black; font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Malam telah berlalu. Tidak lama lagi pagi menjelang. Kabut tipis menghiasi kota, lampu-lampu jalan masih terlihat temaram. Namun kehidupan kota mulai menggeliat. Sedini itu Heri telah meninggalkan rumah, menuju tempatnya mengais rejeki. Stasiun pengisian bahan bakar umun. Di sudut kota tempat tinggalnya. Tidak seperti biasa pagi ini ia mengendarai sepeda motor menuju tempatnya bekerja. Entah karena apa. Takut atau mungkin merasa mobilnya telah membawa sial.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="background-attachment: initial; background-clip: initial; background-color: transparent; background-image: initial; background-origin: initial; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-size: 12px; margin-bottom: 0pt; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="background-attachment: initial; background-clip: initial; background-color: transparent; background-image: initial; background-origin: initial; border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; color: black; font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Pagi jam lima. Di jalan Raya tergeletak sosok tubuh manusia. Bersimbah darah dengan luka robek di perutnya. Tercerai berai organ pencernaan serta tulang-tulang putih&lt;span style="background-attachment: initial; background-clip: initial; background-color: transparent; background-image: initial; background-origin: initial; border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-size: 16px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;siku kanannya. Heri tak berdaya mengusir rasa takut yang telah menghancurkan konsentrasinya. Ia tidak mampu mengendalikan laju sepeda motornya. Saat beberapa remaja lari pagi menyeberangi jalan. Dengan seketika ia menarik rem cakram. Membuat motornya kehilangan kendali. Heri tersungkur ke tengah jalan. Pada saat yang bersamaan sebuah mobil tangki menggilas tubuhnya dari belakang. Kejadian itu begitu cepat. Secepat kilat. Heri meregang,&lt;span style="background-attachment: initial; background-clip: initial; background-color: transparent; background-image: initial; background-origin: initial; border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-size: 16px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;menghembuskan napas terakhir dalam kekalutannya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="background-attachment: initial; background-clip: initial; background-color: transparent; background-image: initial; background-origin: initial; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-size: 12px; margin-bottom: 0pt; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: center; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="background-attachment: initial; background-clip: initial; background-color: transparent; background-image: initial; background-origin: initial; border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; color: black; font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="background-attachment: initial; background-clip: initial; background-color: transparent; background-image: initial; background-origin: initial; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-size: 12px; margin-bottom: 0pt; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="background-attachment: initial; background-clip: initial; background-color: transparent; background-image: initial; background-origin: initial; border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; color: black; font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Tidak lama kabar kematian Heri sampai di tempat ia bekerja. Rekan-rekannya ada yang terbelalak matanya, ada yang tidak percaya. Tapi juga ada sebagian yang terlihat gembira. Ternyata selama ini Heri dikenal sebagai sosok koordinator lapangan yang kurang disenangi. Tidak jarang ia mencuri setoran. Memanipulasi nota. Terkadang malah mengurangi jumlah liter bagi pembeli dalam jumlah besar. Tanpa malu-malu ia meminjam nozel pompa di lapangan bila diketahui akan ada kendaraan besar yang mengisi bahan bakar. Ini jelas-jelas perbuatan bejat yang tidak bisa ditolerir. Bagaimana kalau ada Heri-Heri lain di beberapa SPBU di kota ini. Tentunya banyak sekali orang yang merugi. Tidak cukup di situ suatu saat Heri pernah mengkambing hitamkan anak buahnya, padahal ia sendiri yang telah mencuri uang setoran. Karena si anak buah tadi tidak mau mengaku Heri akhirnya menghajar anak buah itu hingga pingsan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="background-attachment: initial; background-clip: initial; background-color: transparent; background-image: initial; background-origin: initial; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-size: 12px; margin-bottom: 0pt; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="background-attachment: initial; background-clip: initial; background-color: transparent; background-image: initial; background-origin: initial; border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; color: black; font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Meski demikian Heri kini telah kembali. Menghadap Tuhan dengan jalan yang telah ditentukan. Tidak ada yang berhak mengadili Heri kecuali Tuhan. Karena hanya Dialah yang maha adil.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4683969230623021230-7043912803895401240?l=sekamart.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4683969230623021230/posts/default/7043912803895401240'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4683969230623021230/posts/default/7043912803895401240'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sekamart.blogspot.com/2011/10/kematian-beruntun-part-2.html' title='Kematian Beruntun Part 2'/><author><name>Sekam Art</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03351574825352934113</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://bp3.blogger.com/_PVt9-EJCYe0/R5HysCyc9iI/AAAAAAAAAAg/qOywEKwt6uU/S220/Sunset.bmp'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4683969230623021230.post-7153611074658388672</id><published>2011-10-24T17:58:00.004+07:00</published><updated>2011-10-24T18:04:59.735+07:00</updated><title type='text'>MENGINTIP TAKDIR</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #333333; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; line-height: 19px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="\&amp;quot;MsoNormal\&amp;quot;" style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="\&amp;quot;MsoNormal\&amp;quot;"&gt;&lt;div style="font-size: 12px;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Aku bersandar pada jeruji besi yang terlalu perkasa&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-size: 12px;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;untukku melarikan diri&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-size: 12px;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Nyaliku seperti lilin, sebentar lagi ditelan api&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-size: 12px;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Mungkin kau tidak percaya&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-size: 12px;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Sepagi ini aku sudah mengeja langit&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-size: 12px;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Mengintip takdir, membuka rahasia&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="font-size: 12px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 16px;"&gt;Mengapa kau berteriak lantang &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 16px;"&gt;memanggilku&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="font-size: 12px;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Sembari bertanya a&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 16px;"&gt;pa yang kau lakukan!?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="\&amp;quot;MsoNormal\&amp;quot;" style="font-size: 12px;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Sudah...&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;kau tidak akan pernah tahu,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Sebab kau selalu berlari dan berlari lagi&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Di setiap persimpangan&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="\&amp;quot;MsoNormal\&amp;quot;" style="font-size: 12px;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Sedang kau masih ragu dengan tujuan itu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Lihatlah aku sedang membaca takdirku&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Ada banyak air mata yang mengembun di ufuk cakrawala&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Ada juga segurat luka, membutakan hati&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Lihat!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Senyum Matahari.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Itu mungkin bahagiaku&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Ah. Sinarnya hanya sebentar saja&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Embun itu kini mengalir menganak sungai&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Hingga menjadi lautan tak bertepi&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="\&amp;quot;MsoNormal\&amp;quot;" style="font-size: 12px;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Kau masih tidak percaya?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Kini aku juga.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4683969230623021230-7153611074658388672?l=sekamart.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://sekamart.blogspot.com/takdir' title='MENGINTIP TAKDIR'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4683969230623021230/posts/default/7153611074658388672'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4683969230623021230/posts/default/7153611074658388672'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sekamart.blogspot.com/2011/10/mengintip-takdir.html' title='MENGINTIP TAKDIR'/><author><name>Sekam Art</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03351574825352934113</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://bp3.blogger.com/_PVt9-EJCYe0/R5HysCyc9iI/AAAAAAAAAAg/qOywEKwt6uU/S220/Sunset.bmp'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4683969230623021230.post-8401535869408819396</id><published>2009-10-14T19:49:00.000+07:00</published><updated>2009-10-14T19:51:19.523+07:00</updated><title type='text'>Bicara Takdir</title><content type='html'>Ketika  takdir kau anggap membelenggu                      &lt;br /&gt;Karena seribu keinginan masih terpenjara                     &lt;br /&gt;Dibalik terali keputusasaan.                  &lt;br /&gt;Akankah hasrat itu dapat terpenuhi?.                &lt;br /&gt;Hingga tersusun rapi disetiap genggaman.                     &lt;br /&gt;Ah…&lt;br /&gt;Sepertinya sulit sekali untuk diterka                  &lt;br /&gt;Sebab tradisi telah  menguliti naluri&lt;br /&gt;Dalam kebisuan ritual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berhasta-hasta kezuhudan&lt;br /&gt;Menjadi korban alasan&lt;br /&gt;Lupa sejauh usaha yang telah dicoba&lt;br /&gt;Doa dan ikhtiarpun tercabik-cabik&lt;br /&gt;Oleh Nasib,…!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4683969230623021230-8401535869408819396?l=sekamart.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4683969230623021230/posts/default/8401535869408819396'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4683969230623021230/posts/default/8401535869408819396'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sekamart.blogspot.com/2009/10/bicara-takdir.html' title='Bicara Takdir'/><author><name>Sekam Art</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03351574825352934113</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://bp3.blogger.com/_PVt9-EJCYe0/R5HysCyc9iI/AAAAAAAAAAg/qOywEKwt6uU/S220/Sunset.bmp'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4683969230623021230.post-4449962904024579985</id><published>2009-10-13T16:23:00.000+07:00</published><updated>2009-10-13T16:25:51.361+07:00</updated><title type='text'>Bacalah</title><content type='html'>Sejenak kuajak kalian untuk berkaca&lt;br /&gt;Menatap dalam-dalam tentang wajah kita&lt;br /&gt;Sebab masih saja ada yang tidak sanggup membaca&lt;br /&gt;Tentang sketsa wajahnya&lt;br /&gt;Naif sekali. Memang.&lt;br /&gt;Tapi itu tidak sekali dua terjadi.&lt;br /&gt;Sepanjang pagi hingga malam tahun berganti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetaplah menetap kaca&lt;br /&gt;Terjemahkan makna&lt;br /&gt;Tentang mata.&lt;br /&gt;Hidung.&lt;br /&gt;Mulut.&lt;br /&gt;Wajah.&lt;br /&gt;Tubuh.&lt;br /&gt;Apakah itu hanya setumpuk daging yang buta?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan berlari dari kaca&lt;br /&gt;Sebelum kalian sanggup membaca&lt;br /&gt;Walau hanya sebait asa.&lt;br /&gt;Tentang manusia.&lt;br /&gt;Tugas yang tertumpuk&lt;br /&gt;Cita-cita dan kenangan.&lt;br /&gt;Amarah dan kegembiraan.&lt;br /&gt;Nista serta kemulian.&lt;br /&gt;Bacalah..!&lt;br /&gt;Sebelum alam membaca kita.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4683969230623021230-4449962904024579985?l=sekamart.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sekamart.blogspot.com/feeds/4449962904024579985/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4683969230623021230&amp;postID=4449962904024579985' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4683969230623021230/posts/default/4449962904024579985'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4683969230623021230/posts/default/4449962904024579985'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sekamart.blogspot.com/2009/10/bacalah.html' title='Bacalah'/><author><name>Sekam Art</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03351574825352934113</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://bp3.blogger.com/_PVt9-EJCYe0/R5HysCyc9iI/AAAAAAAAAAg/qOywEKwt6uU/S220/Sunset.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4683969230623021230.post-496641571276070265</id><published>2009-10-04T19:45:00.006+07:00</published><updated>2009-10-04T20:06:20.179+07:00</updated><title type='text'>Kuburan Api</title><content type='html'>Malam sunyi&lt;br /&gt;terkubur api&lt;br /&gt;dalam balutan asap&lt;br /&gt;tangis menyengat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memanggil-manggil,&lt;br /&gt;mengetuk pintu penuh pilu.&lt;br /&gt;namun hati masih terkunci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hingga pagi mengurai kabut&lt;br /&gt;merangkai arang&lt;br /&gt;merampas kemerdekaan&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4683969230623021230-496641571276070265?l=sekamart.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4683969230623021230/posts/default/496641571276070265'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4683969230623021230/posts/default/496641571276070265'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sekamart.blogspot.com/2009/10/kuburan-api.html' title='Kuburan Api'/><author><name>Sekam Art</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03351574825352934113</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://bp3.blogger.com/_PVt9-EJCYe0/R5HysCyc9iI/AAAAAAAAAAg/qOywEKwt6uU/S220/Sunset.bmp'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4683969230623021230.post-8741875824711267885</id><published>2009-09-03T20:19:00.001+07:00</published><updated>2009-09-03T20:22:00.175+07:00</updated><title type='text'>Hiperrealitas</title><content type='html'>Chairul Akhmad&lt;br /&gt;&lt;a title="E-mail" onclick="window.open(this.href,'win2','width=400,height=300,menubar=yes,resizable=yes'); return false;" href="http://sabili.co.id/index.php?option=com_mailto&amp;amp;tmpl=component&amp;amp;link=aHR0cDovL3NhYmlsaS5jby5pZC9pbmRleC5waHA/dmlldz1hcnRpY2xlJmlkPTYxOCUzQWhpcGVycmVhbGl0YXMmb3B0aW9uPWNvbV9jb250ZW50Jkl0ZW1pZD0xNjM="&gt;&lt;/a&gt;&lt;a title="Cetak" onclick="window.open(this.href,'win2','status=no,toolbar=no,scrollbars=yes,titlebar=no,menubar=no,resizable=yes,width=640,height=480,directories=no,location=no'); return false;" href="http://sabili.co.id/index.php?view=article&amp;amp;catid=45%3Atafakur&amp;amp;id=618%3Ahiperrealitas&amp;amp;tmpl=component&amp;amp;print=1&amp;amp;page=&amp;amp;option=com_content&amp;amp;Itemid=163"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a title="PDF" onclick="window.open(this.href,'win2','status=no,toolbar=no,scrollbars=yes,titlebar=no,menubar=no,resizable=yes,width=640,height=480,directories=no,location=no'); return false;" href="http://sabili.co.id/index.php?view=article&amp;amp;catid=45%3Atafakur&amp;amp;id=618%3Ahiperrealitas&amp;amp;format=pdf&amp;amp;option=com_content&amp;amp;Itemid=163" rel="nofollow"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Namanya, Jean Baudrillard. Ia seorang teoris postmodern, juga sosok intelektual terkemuka abad ini. Selain dikenal sebagai kritikus dan pemikir yang brilian, Baudrillard juga kerap disebut sebagai ‘guru’ ternama postmodern Perancis dengan karya-karya tulis yang mengagumkan. Salah satu ‘temuannya’ yang terkenal dalam bidang komunikasi adalah hiperrealitas. Secara singkat, hiperrealitas adalah suguhan ‘realitas’ yang lebih nyata dari aslinya, dimana batas antara yang nyata (fakta) dan maya (palsu) sulit dibedakan. Sebuah dunia yang melebur. Bagi Baudrillard, televisi adalah salah satu penyuguh hiperrealitas karena kemampuannya dalam membangun sebuah realitas sosial (social constructed reality). Sebuah dunia simulasi.Dan kini tidak hanya tayangan televisi, tapi berita koran dan majalah juga bagian dari itu. Sulit membedakan antara yang nyata dengan yang imaji, benar dan palsu. Pemberitaan media massa –cetak maupun elektronik– tentang terorisme saat ini, mulai menggelikan dan tidak realistis. Tak lebih dari sebuah simulakrum. Tayangan penyergapan teroris bak reality show yang mendominasi layar kaca, pemberitaan yang cenderung one sided, pencitraan hingga stigma terhadap suatu kelompok masyarakat terus-menerus didengungkan. Dikonstruksi dengan beragam dalih dan alasan, walau kadang tak masuk akal. Sementara verifikasi, sebagai sebuah ruh jurnalisme, menghilang ditelan kabut. “Yang benar dan yang nyata mati, lenyap dalam longsoran simulasi,” sindir Baudrillard.Akhirnya, yang bermain adalah simulasi atas realitas untuk menghasilkan ‘realitas’ baru, di mana ‘realitas’ itu lebih riil daripada kenyataannya. Pada tahap ini, berita terorisme kehilangan jarak dengan realitas. Yang benar dan riil adalah kebenaran simulasi itu, tanpa diketahui –dan memang tidak ada lagi– realitas aslinya. Siapa sesungguhnya pelaku terorisme, benarkah Noordin M Top, apa motif dan tujuannya? Semuanya mengabur, absurd dan misterius.Media massa –terutama di Indonesia– telah berhasil menciptakan apa yang disebut oleh Baudrillard sebagai sebuah dunia palsu yang dianggap nyata. Media berhasil to feign to have what one hasn’t. One implies a presence, the other an absence. Menciptakan sebuah kepura-puraan.  Oh, Jean Baudrillard, hiperrealitasmu kini benar-benar membumi di Indonesia. Batas ‘realitas’ itu kini melebur dalam cengkeraman pemilik modal, penguasa dan kacung-kacungnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4683969230623021230-8741875824711267885?l=sekamart.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4683969230623021230/posts/default/8741875824711267885'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4683969230623021230/posts/default/8741875824711267885'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sekamart.blogspot.com/2009/09/hiperrealitas.html' title='Hiperrealitas'/><author><name>Sekam Art</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03351574825352934113</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://bp3.blogger.com/_PVt9-EJCYe0/R5HysCyc9iI/AAAAAAAAAAg/qOywEKwt6uU/S220/Sunset.bmp'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4683969230623021230.post-7425268373718522834</id><published>2009-08-23T21:01:00.000+07:00</published><updated>2009-08-23T21:05:13.911+07:00</updated><title type='text'>Kematian Beruntun</title><content type='html'>Langit coklat. Angin membusungkan dada di atmosfir. Mata bumi, memijar. Seperti memijarnya mata seorang gadis. Dengan bulatan retina dan lensa warna biru keperakan. Masih dilangit, lengkung sabit kuning pasi. Bintangpun berat hati untuk menari. Mungkin awan yang terlalu jumawa. Padahal ia sangat lemah. Hmm. Biarlah ia memang begitu, terlalu patuh menuruti titah. Karenanya ia mampu menghangatkan bumi dengan bentangan selimutnya. Seperti biasa manusia selalu ingin mendahului. Di jalan raya. Padahal suhu yang dihasilkan oleh ac kendaraannya sudah cukup dingin. Bagaimana dengan sipengendara sepeda motor, penumpang angkot atau mereka yang berjalan kaki ditrotoar. Tentunya sangat lengket dan gerah. Sangat tidak mengenakkan. Peduli amat. Sebentar lagi turun hujan. Sementara balkon dan etalase gedung-gedung mulai semarak dengan lampu warna kuning emas. Apartemen, mall dan juga lampu di sepanjang jalan telah memijar. Mesti demikian suasana ibukota seakan tetap gelap. Pekat. Perlahan langit yang coklat itupun runtuh.&lt;br /&gt;            Heri. Dengan kecepatan tinggi ia melajukan mobilnya. Deru mesin mobil Yaris yang telah dimodifikasi itu semakin garang. Entah Setan apa yang telah merasukinya. Mengendalikan jiwa kering kerontang. Tanpa Dzikir dan tasbih. Tanpa perhitungan. Sebab dan akibat. Meski jalan raya tidak cukup lengang. Namun celah yang ada selalu dia gunakan untuk menyalip kendaraan didepannya. Dalam pacuan andrenalin, sekelibat bayangan manusia dihadapannya. Ia tidak memiliki  jarak untuk menghentikan mobilnya seketika.&lt;br /&gt;            “brukkk,…..!!”&lt;br /&gt;Mobilnya menghantam sesuatu, entah apa itu. Heri berusaha untuk tidak mau tau. Padahal korban yang ditabraknya seketika meregang nyawa. Dengan tubuh remuk, tulang lengan kanan patah. Paha terkoyak dan kepala rata menjadi rempeyek. Tergilas ban. Sementara kedua bola matanya keluar dan sebagian otak berhamburan di aspal. Tragis. Begitulah sebuah kematian yang selalu mengintai. Siapapun dia. Susah ataupun senang. Setuju atau tidak mati pasti adanya.&lt;br /&gt;Beberapa orang  telah berkerumun, mesti hujan masih mengguyur. Pancaran cahaya  lampu jalan turut mewakilkan rasa prihatin dan bela sungkawa. Kemudian ada yang menutup korban dengan kardus dan koran. Arus lalu lintaspun macet sebelum aparat kepolisian tiba dilokasi kejadian. Tidak ada saksi mata. Semua mulut dibungkam kengerian. Atau memang tidak satupun yang melihat kegilaan Heri.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak seperti biasa, setiba dirumah ia tidak lantas mamasukkan mobilnya kegarasi. Sebab jalan mengarah kepintu itu telah berdiri tenda dan tersusun deretan kursi. Bahkan beberapa undangan telah menempatkan dirinya disana. Maklum tinggal diperumahan memang minim lahan. Apalagi bila akan mengadakan hajatan. Harus menggunakan tenda tambahan sampai-sampai memakan tidak sedikit ruas jalan Malam itu adalah malam peresmian nama bagi anak pertamanya.  Tuhan telah menitipkan anak melalui rahim seorang wanita muda. Istri yang selalu menemani dalam suka duka. Karunia ini merupakan kebahagiaan mereka yang tentunya tiada tara. Tidak terlafaz lagi dalam kata-kata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Farel…”&lt;br /&gt;“Ya.. anak ini diberi nama Muhammad Farel Bin Heri, semoga kelak ia menjadi anak yang sholeh berguna bagi nusa bangsa dan agama. Dan tentunya selalu berbakti kepada dua orang tuanya.. Amin….”&lt;br /&gt;“Hadirin yang berbahagia, acara selanjutnya adalah pencukuran rambut bagi si bayi. Kami panggil yang pertama adalah ayahnya, saudara Heri”. Demikian Heri segera keluar dari kamar setelah mc memanggilnya. Sedari tadi ia memang belum menemui para undangan. Wajah Heri begitu tegang dan pucat, namun ia menutupinya dengan keceriaan ketika ia mencukur rambut Farel.  &lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Acarapun lancar sampai selesai dengan ditandai pembacaan doa oleh Ki Haji Hasan Syarkowi. Sesepuh di komplek itu. Seperti biasa para tamu undangan belum diperkenankan pulang sebelum makan malam bersama yang telah disediakan tuan rumah. Tidak terlalu mewah namun lebih dari cukup untuk menjamu undangan. Hidangan makanan berupa olahan daging kambing. Sate, gulai, tonseng maupun rendang. Ayam goreng, ikan bakar, sop juga ada. Disediakan bagi mereka menghindari kolesterol. Tidak ketinggalan aneka buah dan berbagai minuman. Kopi, teh, susu dan bahkan es krim sebagai cuci mulut. &lt;br /&gt;Selesai jamuan makan sebagian undangan berangsur meninggalkan rumah Heri. Dalam keadaan yang masih ramai pandangan semua orang tertuju pada pak Amin. Tetangga dekat Heri. Tiba-tiba saja ia terkapar tidak sadarkan diri didekat pintu keluar. Pak Amin segera dilarikan ke rumah sakit. Namun saat ditengah perjalanan Tuhan lebih dulu mengambilnya. Belum diketahui pasti kematiannya, yang jelas terakhir kali dia minum kopi rumah Heri. Tidak ada yang bisa disalahkan. Kematian menjadi kepastian dari-Nya. Kenapa minum kopi?, kenapa makan kambing kalau hanya akan membuat mati. Kenapa mengundang dia kalau hanya untuk membunuhnya?. Itu adalah kemungkinan dan kita semua punya kemungkinan./ bersambung....&lt;br /&gt;***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4683969230623021230-7425268373718522834?l=sekamart.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4683969230623021230/posts/default/7425268373718522834'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4683969230623021230/posts/default/7425268373718522834'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sekamart.blogspot.com/2009/08/kematian-beruntun.html' title='Kematian Beruntun'/><author><name>Sekam Art</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03351574825352934113</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://bp3.blogger.com/_PVt9-EJCYe0/R5HysCyc9iI/AAAAAAAAAAg/qOywEKwt6uU/S220/Sunset.bmp'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4683969230623021230.post-6224439362557484208</id><published>2009-07-12T20:28:00.002+07:00</published><updated>2009-07-12T21:01:22.263+07:00</updated><title type='text'>12 Juli</title><content type='html'>12 Juli&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kubawakan seikat Mawar Hijau&lt;br /&gt;dengan kuncup yang masih segar.&lt;br /&gt;di 12 juli,&lt;br /&gt;aku terdiam.&lt;br /&gt;Duduk di serambi hati&lt;br /&gt;seorang Bidadari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan untuk menagih janji.&lt;br /&gt;Sebab janji tidak lagi berarti.&lt;br /&gt;Entah...&lt;br /&gt;Gegap gempita bahagia&lt;br /&gt;berbalik menjadi petaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup indah yang baru saja kubuat sketsa.&lt;br /&gt;rusak keseluruhannya.&lt;br /&gt;Di 12 Juli.&lt;br /&gt;Hari lahir seorang yang telah merampas&lt;br /&gt;sketsa itu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4683969230623021230-6224439362557484208?l=sekamart.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4683969230623021230/posts/default/6224439362557484208'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4683969230623021230/posts/default/6224439362557484208'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sekamart.blogspot.com/2009/07/12-juli.html' title='12 Juli'/><author><name>Sekam Art</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03351574825352934113</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://bp3.blogger.com/_PVt9-EJCYe0/R5HysCyc9iI/AAAAAAAAAAg/qOywEKwt6uU/S220/Sunset.bmp'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4683969230623021230.post-2010589371647067760</id><published>2009-04-27T20:19:00.001+07:00</published><updated>2009-08-23T19:05:21.279+07:00</updated><title type='text'>Bilik Termenung</title><content type='html'>&lt;div&gt;Bilik Termenung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak usah malu-malu,&lt;br /&gt;renungkan tentang keadaan dirimu.&lt;br /&gt;tentang kita.&lt;br /&gt;lingkungan dan juga tempat mu untuk menitipkan hati.&lt;br /&gt;pahit, getir, manis tidak sedikit menimbulkan rasa pedih.&lt;br /&gt;disini.&lt;br /&gt;Didalam dada dan juga lidah.&lt;br /&gt;Sudahlah....&lt;br /&gt;Apa yang mesti kita kesalkan.&lt;br /&gt;Semua telah berlalu.&lt;br /&gt;Jangan salahkan dirinya selalu&lt;br /&gt;Kini merenunglah tentang semua.&lt;br /&gt;toh juga tidak ada siapa-siapa.&lt;br /&gt;di dalam bilik tempat mengeluarkan seluruh kotoranmu&lt;br /&gt;sebelum akhirnya benahi keadaan.&lt;br /&gt;dengan ribuan dolar dana reksa yang ada.&lt;br /&gt;Atau sekadar sisa kekuatan.&lt;br /&gt;Barangkali telah terakumulasi kembali bersama pengalaman&lt;br /&gt;Mengalir di sepanjang sirkuit kehidupan.&lt;br /&gt;Agar tetap menjadi yang terbaik.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SUARA KOSONG&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negeri Biru. Sebut saja begitu, sebuah negeri yang sangat terkenal di dataran entah berantah. Negeri itu memilikki kekayaan alam yang sangat melimpah. Budaya dan juga beraneka maha karya seni anak negeri. Karena begitu besarnya potensi alam disana hanya langit dan udaralah yang tidak bisa dijual. Namun sayang dalam hal peradaban serta teknologi negeri Biru sedikit terbelakang. Sehingga kurang mampu mengelola kekayaan yang melimpah itu dengan sebaik mungkin. Imbasnya adalah hadirnya investor-investor asing yang menanamkan modalnya guna mendirikan perusahaan disana.  Hal itu memang menguntungkan. Namun tanpa sadar kerjasama yang terjalin dengan perusahaan asing itu lebih menguntungkan mereka dibanding dengan Negeri Biru. Yang hanya menerima pajak atau bagi hasil itupun nilainya tidak seberapa.&lt;br /&gt;Ratusan ton cairan emas setiap hari dikirim ke luar Negeri, gas, minyak bumi demikian masih banyak lagi sumber daya alam yang diambil negara-negara di dunia. Dan negeri Biru hanya diberikan pajaknya yang tidak lebih dari sepuluh persen. Itu karena orang-orang di negeri Biru memang tidak sanggup menciptakan peralatan, maupun mesin-mesin untuk mengeksplorasi bumi dan juga pabrik-pabrik pengelolaan hasil perkebunan. Kontras sekali. Tinggal di negeri yang kaya namun banyak sekali penduduknya yang masih menderita. Bukan saja miskin. Namun juga bodoh. Mereka tidak bisa menjadi ndoro atau juragan. Malah sebaliknya. Menjadi kuli di negeri sendiri. Harga sembako yang melambung tinggi, rakyat semakin sulit mendapat minyak tanah, pun dengan beras yang harganya juga mahal. Padahal negeri Biru sudah terkenal menjadi negara penghasil pangan dan minyak bumi. Tragis. Bak anak ayam yang harus mati di lumbung padi.&lt;br /&gt;Keadaan ini sungguh bertolak belakang dengan harapan pemimpin negeri biru terdahulu. Para pahlawan yang telah berjuang matian-matian mempertahankan negeri ini dari tangan penjajah. Namun pewaris negeri tidak sanggup mengemban cita-cita luhur sang pahlawan. Semua telah berubah. Dan perubahan yang sungguh menyakitkan. Siapapun. Meski saat ini negeri Biru memiliki pemimpin yang cukup bijaksana dan cerdas. Itu tidak berlangsung lama. Pemerintahannya hanya bertahan seumur jagung. Lawan politik sang Presiden lebih tidak suka. Akhirnya penguasa itu harus meninggalkan tampuk kepemimpinannya akibat kudeta dan propaganda politik. Namun dengan legowo ia turun tahta. Biasanya pemungutan suara untuk memilih presiden segera berlangsung, setelah negri memasuki fase kekosongan pemimpin.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Beberapa kandidat maju. Dengan berbagai janji dan iming-iming lainnya. Bagaimanapun semua telah dipolitisi. Program kerja dan sederetan rencana lainnya. Yang seakan selalu membodohi rakyat negri Biru.&lt;br /&gt;Salah satu calon Presiden adalah seorang pemuda bernama Aditya. Baru saja menyelesaikan gelar Doktornya di Timur Tengah. Ia satu-satunya kandidat yang berlatar belakang sipil. Sementara lawan lainnya adalah para Jendral besar dan Purnawirawan angkatan bersenjata. Mesti demikian pamornya tidak kalah redup dengan cahaya bintang sang Jendral. Karena yang menjadi rekan politik Aditya adalah ayahnya sendiri. Suryo. Yang juga memimpin Majlis Musyawah tertinggi negeri Biru.&lt;br /&gt;“Adit,.. ayah mau latihan Golf. Istirahat dulu mungkin kamu capek..” Suryo meninggalkan Putra sulungnya yang sedang asyik didepan note booknya. Didalam kamar sebuah Hotel bintang lima yang sejuk nyaman dan tenang. Mereka baru saja selesai jumpa pers setelah seharian berkampanye tentang pencalonan Aditya menjadi Presiden.&lt;br /&gt;“Ya yah.. jangan terlalu maksa yah. Besok kita masih punya jadwal kampanye lagi.”&lt;br /&gt;“Kamu tenang saja. Ayah akan selalu dibelakangmu nak,…?. Seluruh relasi Ayah dan petinggi-petinggi negri ini siap membantu kita” Sambung sang ayah pe-de akan keterlibatan relasi dan kerabat dan mensukseskan kampanye mereka&lt;br /&gt;“Ok, Boss…”&lt;br /&gt;Aditya merasa begitu kesepian. Mungkin karena lelah yang telah menggelayuti tubuhnya. Mengenai Orasi politiknya siang tadi. Berhasil memikat banyak pendukung yang mayoritas kaum Hawa. Ia semakin yakin akan memenangkan pemilihan pemimpin negri biru nantinya.&lt;br /&gt;            “Hallo Lidya,… Tolong datang ke ruangan saya”  ia memangggil sekretaris partainya melalui ponsel.&lt;br /&gt;            “Tunggu sebentar saya akan segera kesana mas,…”jawaban dari lawan bicaranya&lt;br /&gt;Dengan tergopoh sebelum meninggalkan ruang pertemuan Lidya menitipkan segala sesuatunya pada Dimas, dan masih banyak lagi anggota tim sukses lainnya disana.&lt;br /&gt;            Pintu kamar 214 Hotel Cendana terbuka. Dilobi tampak sepi. Hawa sejuk Ac merayap terasa dingin menghembuskan aroma pengharum ruangan yang khas. Lidya menarik napas dalam-dalam dan merapikan blazernya tepat didepan pintu itu.&lt;br /&gt;            “Permisi..”&lt;br /&gt;            “Masuk Lidya..”&lt;br /&gt;            “Iya mas…” Lidya masuk sambil memanggutkan kepala tanda hormat. Ia kemudian menutup pintu setelah Aditya memberi isyarat.&lt;br /&gt;            “Kok sendirian mas, pak Suryo mana,..?” Tanyanya.&lt;br /&gt;            “Ada..Gimana udah beres semuanya..?”&lt;br /&gt;            “Sudah mas. Hanya pembayaran untuk pemuatan dimedia cetak yang belum. Tapi tadi sudah saya pesankan ke Dimas agar ia menyelesaikan semuanya hari ini juga”.&lt;br /&gt;            “Bagus kalau begitu. Oya tolong bereskan file-file diatas meja ini. Aku udah capek ..??” Aditya segera menuju kamar mandi.&lt;br /&gt;            Tidak lama kemudian salah satu Calon Presiden negri Biru itu keluar. Dengan wajahnya tampak lebih segar dan mengenakan pakaian santai.&lt;br /&gt;            “Lidya tolong. Kamu bisa pijat nggak. Pundakku pegal sekali,..”&lt;br /&gt;            “Tapi mas..”&lt;br /&gt;            “Sudah nggak apa-apa sini,..” Dengan sedikit grogi dan gemetar Lidya mulai memijat bagian pundak Aditya.&lt;br /&gt;            “Saya nggak bisa mijit mas..”&lt;br /&gt;            “Nggak apa-apa, ini aja udah lebih dari cukup..”&lt;br /&gt;Lidya semakin grogi, saat perlahan tangan kanan bosnya meremas jemarinya. Ia juga takut, kalut yang bercampur dengan kegelisahan.&lt;br /&gt;            “Mas nggak enak nih, kita kan Cuma berdua apalagi mas calon seorang pemimpin..”&lt;br /&gt;            “Ssttt…” Aditya berbalik. Lalu meremas tangan Sekretarisnya, yang memang begitu manis dan menggemaskan. Dalam hitungan detik lelaki itu telah memeluk sekretarisnya. Lidya tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya rasa takut dan berdebar jantungnya yang sebentar lagi hampir copot. Menurutnya. Ia tidak tahu akan seperti ini kejadiannya. Begitu cepat. Aditya merenggut kehormatan dirinya. Dalam keadaan terpojok sementara lelaki dihadapannya masih dengan beringas menyerbunya. Tiba-tiba terdengar pintu kamar dibuka. Suryo datang. Kebetulan ia membawa kunci duplikat. Lidya sedikit terhibur. Ada yang akan menolong pikirnya. Mesti ia tidak bisa menutupi malu dan hancur perasaannya. Setelah pintu kembali ditutup. Tidak ada reaksi apa-apa dari seorang Suryo. Ayah Aditya. Justru kini yang kedua. Suryo turut menggilirnya.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;            Waktu pemungutan suarapun tiba. Aditya adalah calon terkuat. Indikasi itu muncul karena jumlah yang lolos verifikasi hanya dua calon. Yaitu jendral besar Burhanuddin sedangkan popularitasnya masih dibawah Aditya. Sementara calon lain tidak lolos. Itupun atas skenario Suryo, selaku mepimpin majlis tertinggi di Negri Biru. Hingga memasuki perhitungan suara. Keadaan sangat mendebarkan tentunya. Karena ternyata angka persaingannya sangat ketat. Sungguh suatu hal diluar dugaan yang tejadi. Setelah selesai proses perhitungan suara jumlah pemilih tidak mencapai dua puluh persen dari jumlah seluruh rakyat Negri itu. Artinya hasil dari pemilihan tidak bisa di sahkan. Dengan terpaksa panitia mengulang proses pemilihan presiden. Dalam perhitungan yang kedua kini jumlah peserta pemilih bertambah. Namun tidak signifikan. Tidak mencapai satu persen. Rakyat Negri Biru bisa memilih. Dan mereka lebih baik memberikan suaranya pada suara kosong. Untuk kedua kalinya hasil pemungutan suara  dibatalkan.&lt;br /&gt;            “Saya sowan kesini. Mohon berikan kepada saya dukungan. Restu dan keihklasan bahwa saya akan maju menjadi calon pemimpin di negri ini…” Aditya datang sendiri. Mengemis pada sang mantan Presiden yang ternyata masih bertaji. Terbukti seluruh pendukungnya masih setia. Pada keputusan mereka.&lt;br /&gt;            “Sudahlah bangun, tidak perlu sembah sujud padaku,..semua sudah tahu. Kau Kurestui asalkan bawa Negri ini pada perubahan kebaikan. Sejahterakan rakyat kecil dan keadilan haruslah ditegakkan” jawab mantan Presiden itu dengan berjiwa besar. Sesudahnya tentu saja mantan presiden itu akan memerintahkan pada pengikutnya yang setia untuk memberikan suaranya pada Aditya.&lt;br /&gt;            Untuk pemungutan suara yang ketiga kalinya Aditya menang telak atas lawannya. Hinga akhirnya ia berjalan memasuki Kursi kepresidenan di Negri Biru dengan mulus. Hal ini tentu sangat tidak mengenakkan. Setelah musuh yang diruntuhkannya itu harus menjadi kawan pendobrak baginya. Ah lupakan saja. Aditya kini berusaha untuk mengisi kepemimpinanya yang baru ditanah airnya. Rasa gembirapun tidak dapat disembunyikan dari raut wajahnya yang tampan dan penuh wibawa itu.&lt;br /&gt;            Triwulan pertama dibawah kekuasaan sang Presiden Aditya. Negri Biru tampak biasa-biasa saja. Hanya saja kebebasan yang diberikan kepada rakyatnya perlahan mulai disalah gunakan. Pergaulan bebas remaja mulai merebak. Kasus-kasus kejahatan jumlahnya meningkat tajam. Sembako merangkak naik. Dan kedewasaan demokrasi yang terpasung. Peta politikpun semakin kacau.&lt;br /&gt;            Negri Biru dalam keadaan Chaos kekacauan dimana-mana. Tindak kejahatan dan kriminalitas benar-benar tidak bisa dibendung. Media masa memberitakan berbagai kasus kejahatan. Itu justru akan ditiru bagi penjahat yang belum melakukan aksinya. Malah seolah diberikan contoh dari residivis maupun pelaku kejahatan yang berhasil kabur. Rakyat kecil semakin tertindas. Bahkan terasa begitu sulit untuk mendapatkan hanya sepiring nasi dalam sehari. Tingkah laku remajanya benar-benar lewat batas. Perzinahan menjamur. Bahkan siswa kelas 5 Sekolah Dasarpun sudah bisa memperkosa. Perjudian minuman Keras. Sudah menjadi trend. Nilai moral yang benar-benar telah bergeser. Ulama yang tidak lagi berfungsi. Bahkan tidak bermartabat sama sekali. Kiyai yang hanya mau memberikan ceramahnya ketika diberi honor besar. Manakala isi amplop yang diterima jumlahnya sedikit. Akan menggerutu hatinya. Dan jera kembali lagi. Demikian juga aparat penegak hukum. Hukum yang begitu mudah dipermainkan. Sebagai salah satu contohnya adalah kasus korupsi di Bank Negri Biru. Tidak satupun aparat yang berani bertindak. Bahkan untuk buka mulut sekalipun.&lt;br /&gt;            Belum satu tahun kepemimpinan Aditya Negri Biru telah ratusan kali ditimpa bencana. Tsunami. Gunung meletus. Gempa. Kebakaran dan banjir yang telah merendam hampir seluruh kota di negri Biru. Semua tidak dapat berbuat apa-apa. Kini ketika lumpur panas meluap dari perut bumi menenggelamkan hampir seluruh Negri itu. Bersama teriakan suara-suara kosong manusia.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4683969230623021230-2010589371647067760?l=sekamart.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4683969230623021230/posts/default/2010589371647067760'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4683969230623021230/posts/default/2010589371647067760'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sekamart.blogspot.com/2009/04/bilik-termenung.html' title='Bilik Termenung'/><author><name>Sekam Art</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03351574825352934113</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://bp3.blogger.com/_PVt9-EJCYe0/R5HysCyc9iI/AAAAAAAAAAg/qOywEKwt6uU/S220/Sunset.bmp'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4683969230623021230.post-4942577942512000056</id><published>2009-04-27T20:17:00.000+07:00</published><updated>2009-04-27T20:19:40.583+07:00</updated><title type='text'>Karena Aku Bukan Puisi</title><content type='html'>Karena aku bukan puisi&lt;br /&gt;Aku kagum. Ternyata masih ada seekor kucing yang berani menangkap tikus got. Walau si kucing jagoan itu harus ekstra keras mengerahkan seluruh tenaganya untuk menerkam sang musuh. Ia pantang menyerah, dengan gagah terus melancarkan agresinya. Tak peduli iapun mesti berjibaku dengan lumpur. Hingga akhirnya tikus yang besarnya hampir sama dengan ukuran tubuh si kucing itu terkapar. Mati. Si kucing mulai mengganyang mangsanya. Mesti mungkin aroma dan rasanya tidak terlalu lezat. Dagingnya terlalu keras dan kejal. Agh..ooww,.. ia segera merasa kenyang. Kucing  membawa sisa tikus naik keatas teras rumah. Dan meninggalkan begitu saja kepala, kaki belakang dengan ekor yang masih terjulur dan sebagian lagi isi perut si tikus.Mesti terlalu kurang ajar. Kucing itu benar-benar tangguh dan berani. Kalau ada, dia pantas mendapat apresiasi penghargaan. Karena selama ini tidak ada kucing yang berani memangsa tikus. Menakut-takuti saja sudah enggan. Membiarkan saja tikus menari dan bersukaria. Dengan bebas keluar masuk dapur, mencuri apa saja yang bisa dicuri. Untuk sekadar menggigit kabel listrik, telepon atau apa saja yang bisa dihancurkan dengan gigi pengeratnya. Namanya juga tikus yang selalu merugikan. Sementara selama ini mulut-mulut kucing telah disumpal, entah dengan apa. Hanya bengong melihat tikus lalulalang.&lt;br /&gt;Sama. Di negeriku juga sedemikian rupa. Aku berharap semoga segera ada yang berani memberantas korupsi. Karena selama ini koruptor dibiarkan hidup tenang, tanpa ada yang mengawasi. Lembaga pemberantasan korupsi seperti telah dikebiri. Jangankan lembaga itu. Bahkan Tuhan sekalipun telah ditanggalkan dari kehidupan para pejabat. Bukan… Bukan hanya para pejabat, hampir seluruh penghuni negeri ini mengingat Tuhannya ketika berada di Masjid, di Gereja, Wihara atau di tempat pemujaan saja. Kitabsuci sebagai pedoman hidup, tertata rapi menghias lemari. Betapa indahnya bila Tuhan kembali hadir disetiap relung kehidupan manusia. Pastinya tidak ada lagi mereka yang mengemis demi sesuap nasi. Orang-orang kecil yang terpinggir dari komunitasnya. Tergusur karena sebuah ekspansi mega proyek yang hanya untuk kepentingan segelintir korporate. Tidak ada lagi para ellit politik baku hantam. Malu sebagai pejabat memakan uang rakyat. Musnahkan kekerasan dalam rumah tangga. Pencuri, penjudi dan pengedar enyahlah jauh-jauh. Hadir jiwa-jiwa baru yang selalu jujur dimanapun berada. Kini tenteraman dan kenyamanan hidup yang terasa. Harapan itu semoga bukan hanya sekadar wacana.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Matahari mulai meninggi, mesti sebenarnya tidak pernah bergerak dari peredarannya. Menghangatkan kulit bumi. Aku baru saja membantu ibu menjemur pakaian di balkon, kebetulan kuliah masih libur. lagipula dari satu minggu menjelang lebaran pembantu sudah mudik. Sekaligus minta ijin tidak akan kembali lagi bekerja, karena akan segera menikah dengan sang Arjuna dikampung halamannya. Air sugihan. Ibu pasti sibuk, toko bajunya di pasar 16 Ilir mulai ramai diserbu pembeli memasuki H – 1 lebaran. Biasanya obral besar-besaran.&lt;br /&gt;“Mbak,…beli Batu es …!!” suara melengking si Aan. Anak tetanggaku, yang masih kelas 2 SMP. Beli es batu.&lt;br /&gt;Untuk tambahan membayar lstrik kami menjual es batu di rumah.“Berapa An...?”&lt;br /&gt;“Sikok bae…!!”. Jawabnya. Sambil mengulurkan uang limaratusan. Aku masuk keruang tengah, didalam lemari es stoknya sudah berkurang. Apalagi musim panas, es biasanya laris. Bahkan sampai kekurangan, untuk keperluan buka puasa pembeli harus memesan lebih awal. Kalau tidak biasanya tidak kebagian. Setelah memberikan es batu dalam kantong plastik satukiloan itu, aku kembali. Mengisi air dalam kantong untuk dijadikan batu es.&lt;br /&gt;Sejak bapak meninggal penopang kebutuhan rumah tangga hanya ibu. Kak Jamil tidak bisa diharap karena ia sudah menikah, sementara penghasilannya sebagai pegawai swasta pas-pasan. Untungnya warisan bapak cukup untuk buka usaha. Ibu mulai merintis bisnisnya dibidang fashion, mesti harus jatuh bangun. Alhamdulillah, karena kegigihannya kini ibu memiliki toko dan mampu membayar dua karyawan. Dulu aku tidak ingin kuliah, biar bisa bantu ibu di pasar. Tapi ibu terus merayuku. Katanya untuk masa depan. Akhirnya aku kuliah, di Mulia Darma Pratama jurusan perbankan. Mesti swasta, aku tetap berusaha memperoleh prestasi yang terbaik. Agar ibu tidak kecewa.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Kuperhatikan sedari pagi pondokan kecil yang hampir mirip pos ronda, didepan rumah kami ramai sekali. Dipenuhi orang-orang berjudi. Pondok itu dulunya sengaja dibuat oleh Fuad, karena warungnya yang selalu sepi. Dia berharap dengan adanya orang yang nongkrong disana, akan bertambah pembeli diwarungnya. Sejak Idul Fitri lalu pondok itu kembali disesakki para pemuda yang nongkrong. Tidak tahu siapa yang memulai. Mereka membentuk sekelompok judi melalui permainan kartu. Ah. Tidak heran disini memang begitu, judi sudah jadi tradisi. Aku pikir setelah mendengar khutbah Idul Fitri di Masjid mereka akan segera berbenah dan memperbaiki diri. Ternyata tidak, padahal hari yang Fitri, moment tepat untuk berbenah. Malah sedini ini mereka mengotori, hingga berlarut-larut. Dari pagi sampai malam selalu ramai. Ada saja yang datang, bergantian. Mulai anak-anak sampai kakek-kakek tua renta. Kaum hawapun tidak ketinggalan. Janda seberang rumah kami yang menjadi pelopornya. Tidak peduli sedang hamil, atau nyambi menyusui bayinya perempuan-perempuan itupun ikut nimbrung. Mereka semua mahir memainkan kartu. Entah, apa-apa namanya aku tidak tau.Suasana itu membuat dadaku terasa sesak. Sesak yang membawa jiwaku tersisih didasar jurang kekalahan. Duh betapa tidak enaknya bila didepan rumah selalu disuguhi kemurkaan begini. Bukan sekali atau dua kali masa. Namun setiap hari, pemandangan yang tidak mengenakkan itu menjadi tontonan. Pernah suatu malam perjudian itu benar-benar meledak. Banyak sekali pesertanya, hingga membuka arena baru tepat didepan pintu rumah. Rasanya aku ingin memberantas dengan mengobrak-abrik atau mengusirnya. Tapi aku tidak punya keberanian. Karena keberanian itu selalu terpasung dalam jiwa dan ragaku yang ringkih ini. Aku hanya bisa berteriak, meski dari hati kecil yang tidak pernah mereka dengar. Teriakkan itu. Teriakkan penuh kebencian. Judi..!!. siapa yang akan hidup sejahtera karenanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;“Ayah… Kenapa tidak ada laki-laki yang gagah berani sepertimu. Dengan ucapan lantang marahmu yang membuat mereka gentar. Lembut lantunan nasihat yang mampu membuka hati mereka. Atau lelaki tegas dan keras perlawannanya terhadap kebatilan. Sehingga sanggup mencegah dengan tangan dan lisannya. Apakah laki-laki kini sudah tidak gagah lagi. Begitu tunduk dan lemah didepan kemaksyiatan. Atau cakrawala pandang mereka terhadap dosa telah terhapus, seiring merebaknya noda yang megotori hati. Mungkinkah? dunia ini benar-benar telah tua. Hingga seorang imam masjid hanya mampu termangu melihat para pemuda berjudi di halaman masjid. Tidak..!!. Aku terlalu lemah untuk semua ini. Kalaupun ada perlawanan itu hanya sebatas bicara hati. Dengannya, tidak semua orang bisa mengerti. Karena aku bukan puisi yang mampu melengking tinggi menggetarkan langit. Aku tidak kuasa menebas hasrat yang mengalir bersama darah. Apalagi mengiris-iris hati. Karena aku bukan puisi. Yang bisa menenggelamkan naluri dengan air mata. Meredam amarah melalui untaian bait kewibawaan. Jangankan menampar wajah dengan seribu telapak malaikat. Mengurai air mata saja begitu berat. Aku tau dalam hal melukai mulut lebih tajam dari belati. Tapi mulutku kini telah tumpul. Aku tidak sanggup lagi berkata didepan mereka mesti itu huruf ha atau ka. Aku hanya seorang perempuan lemah, yang baru saja membuka mata menatap dunia…”. Ah.. Tiba-tiba aku mengadu, entah dengan siapa aku bicara. Mengingatkan pada almarhum ayah. Yang semasa hidupnya, memang beliau disegani pemuda disini. Walau akhirnya ayah harus menghembuskan napas di bawah kilatan mata pedang. Suatu hari rumah kami di satroni perampok,  jumlah mereka lebih dari tujuh orang. Lengkap dengan senjata tajam. Awalnya ayah melakukan perlawanan, mungkin karena jumlah musuh yang tidak seimbang. Dalam sekejap ayah terkapar dengan sembilan luka bacok di sekujur tubuhnya. Saat orang-orang datang memberi bantuan perampok itu segera kabur, dengan menggondol beberap juta uang di lemari. Sementara saat dilarikan ke rumah sakit, ayah telah meneteskan darah terakhirnya.&lt;br /&gt;Polisi melakukan olah TKP, dengan hasil yang sangat mengejutkan. Tersangka ternyata bukan orang lain, merupakan saingan ayah dalam pemilihan RT. Yang masih tetangga dekat kami. Namun satu  hal yang membuat kami lebih kecewa,  pembunuh ayah hanya di ganjar tidak lebih dari tiga tahun. Setelah itu bebas berkeliaran. Ah,..sudahlah lagi pula ayah juga tidak akan hadir kembali ditengah-tengah kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Telah tiba saatnya Allah melantunkan puisi-puisi Nya. Tentang  elegi. Melalui percikan bunga api pada sebuah trafo lalu menyambar sebagian atap salah satu rumah warga. Dalam waktu kurang dari dua jam 139 rumah warga ludes dilalap sijago merah. 200 KK lebih kehilangan tempat tinggal. Dan lima ratusan jiwa menjadi gelandangan. Terkatung mencari tempat bernaung. Hujan turun, menyiram bumi yang telah hangus terpanggang. Menerbangkan aroma sangit bercampur gurih tubuh manusia yang terpanggang. Orang-orang telah kehabisan suara untuk berteriak dan menangis. Suasana Seberang Ulu satu menjadi bak neraka. Cakrawala menghitam kemerahan. Jeritan manusia terputus di tenggorokan. Masih dari tempat yang tidak terlalu jauh aku memeluk ibu erat-erat, tubuhnya lunglai. Shock. Tenggorokanku kering, aku semakin tidak sanggup lagi berbicara. Bahkan menelan air liur sendiri terasa pahit. Semua telah hangus menjadi arang yang menghitam legam. Semoga teguran ini mengingatkan mereka. Demikian, termasuk diriku. Jangan pernah merasa beriman. Karena belum tentu kita lulus ujian. Dari Tuhan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4683969230623021230-4942577942512000056?l=sekamart.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4683969230623021230/posts/default/4942577942512000056'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4683969230623021230/posts/default/4942577942512000056'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sekamart.blogspot.com/2009/04/karena-aku-bukan-puisi.html' title='Karena Aku Bukan Puisi'/><author><name>Sekam Art</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03351574825352934113</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://bp3.blogger.com/_PVt9-EJCYe0/R5HysCyc9iI/AAAAAAAAAAg/qOywEKwt6uU/S220/Sunset.bmp'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4683969230623021230.post-3745936638340623301</id><published>2009-04-27T20:15:00.000+07:00</published><updated>2009-04-27T20:17:48.611+07:00</updated><title type='text'>Pencari Cinta yang tidak pernah berhasil</title><content type='html'>Pencari Cinta yang tidak pernah berhasil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi itu suasana kampung tiba-tiba gempar. Menggemuruhkan sunyi saat Matahari hendak membelah cakrawala. Rambat dan Entik berkelahi. Tidak jelas permasalahan apa yang terjadi hingga mengharuskan mereka duel. Nyaris merenggut maut.  Ketika jeritan Entik melengking, menembus ruang daun dikebun singkong pekarangan. Sampai pula dicelah anyaman gedhek bambu rumah warga. Beberapa saat kemudian orang-orang berhamburan menuju sumber suara jeritan itu. Entik mengerang, matanya melotot tubuhnya kejang. Sekarat. Sementara Rambat tertegun kaku. Tubuhnya gemetar. Takut. Sekaligus menyesal. Ia baru saja menghajar kakak perempuanya, menggunakan sebatang linggis. Kepala Entik menganga, sodokkan ujung linggis itu telah menyibakkan warna merah putih tulang tengkoraknya. Darahnya mengental. Suratin. Lelaki yang selama ini memendam hasratnya pada Entik. Meski tidak pernah ia mendapat jawaban tentang hatinya namun ia berusaha menggendong Entik dengan di bantu Nyi Komala. Tetangga depan rumah mereka. Mungkin saja hati si gadis akan luluh ketika terpuruk sekalipun Suratin mampu berada disisinya. Yang jelas ini sebuah kesempatan. Kesempatan yang tidak akan begitu saja dilepaskan, paling tidak menambah satu point perjuangan untuk meraih kasih kekasih.&lt;br /&gt;Bagi Suratin sudah menjadi rutinitas bila setiap pagi ia melewati jalan setapak disamping rumah Entik. Kebetulan ladang yang digarap musim ini berada kira-kira setengah kilo tepat dibelakang rumah pujaan hatinya itu. Ia menyewa lahan seluas dua hektar milik Pak Dasuki Kepala desa setempat. Sementara sawah milik orang tuanya dikelola oleh Slamet kakak tunggalnya.&lt;br /&gt;Sekaligus. Sambil menyelam sambil minum susu. Satu kali langkah ia pergi kesawah. Namun dilangkah lainnya, adalah pengobat rindu. Saat lirikan matanya tertuju pada gadis impiannya. Baginya cinta adalah rasa rindu yang menggebu. Dan sudah cukup mewakili rasa bahagianya saat ia melihat paras wajah ayu Sri Kandi itu. Tidak harus mencumbu. Membelai dan merayu. Apalagi menyetubuhinya. Mesti kata orang itu merupakan manifestasi cinta. Ah itu kan cinta buta yang tidak sanggup lagi berpijak pada cara berpikir rasional. Didalam otak hanya penuh dengan hasrat pemuasan hubungan seksual. Cinta yang melulu mengekor pada pelampiasan hawa nafsu.&lt;br /&gt;“Bertahanlah sayang…kau tidak boleh mati!” ucapnya lirih. Ia tidak bisa menjadi sosok Pahlawan. Lantas membalas dendamkan atas luka yang diderita Entik. Karena perselisihan ini masalah keluarga mereka. Pemicu peristiwa tersebut sebenarnya sangat sepele. Hanya karena Rambat menerima pemberian seperangkat Make Up dari Dirjo, lelaki yang juga dikagumi oleh Entik. Wajar bila Entik ingin mencoba Make up itu. Namun mungkin karena kesal atau merasa haknya direbut. Tiba-tiba Rambat gelap mata. Tidak peduli lagi dengan saudaranya sendiri. Mengamuk. Hingga perempuan yang sedarah dengan dirinya itu terkapar.&lt;br /&gt;Sementara tetangga yang lain menjemput Pak Syamsul, ayah keduanya yang lebih awal pergi ke ladang. Dan dua orang lainya menjemput mbah Kaki. Seorang sesepuh desa, yang dianggap mampu menjampi dan memiliki kelebihan dalam pengobatan metafisika. Tidak ada pertolongan Medis. Di kampung ini belum ada rumah sakit atau bahkan Puskesmas sekalipun. Jarak Sebuah Puskesmas terdekat lebih dari dua puluh kilo meter. Perkampungan di daratan Muara Sugihan. Pedalaman Sumatra Bagian Selatan. Daratan yang juga dikelilingi anakan sungai Musi dan sekaligus berbatasan dengan selat Bangka. Belum ada jalan darat dari pusat kota yang menghubungkan daerah tersebut. Satu-satunya tranportasi melalui sungai Musi. Jukung atau Speed boat. Komunitas penduduk disini adalah peserta Transmigrasi dari pulau Jawa, dan beberapa pendatang dari Makasar. Mereka sudah belasan tahun membuka lahan gambut. Dengan komoditi utamanya padi. Lahan pertanian mereka sawah tadah hujan. Karena kondisi pasang surut dan air sungai yang asin. Hal ini membuat lahan pertanian hanya mampu digarap satu kali dalam setahun. Meski demikian daerah ini telah sukses mendukung terwujudnya Sumatra Selatan sebagai lumbung energi dan pangan nasional.&lt;br /&gt;            Entik sudah siuman. Setelah Mbah Kaki mengobatinya. Namun kondisi fisiknya masih lemah. Ia belum sanggup berdiri atau duduk dengan kepala tegak. Mesti lukanya sudah terasa sejuk. Pengaruh jampi-jampi kakek sakti asal Banjar Negara tersebut.&lt;br /&gt;            “Dia nggak apa-apa, akan sembuh dalam beberapa hari ini,..” kata sesepuh kampung itu. Setelah memberikan air putih satu gelas dan beberapa ramuan alam lainnya.&lt;br /&gt;            “Kalau begitu aku permisi dulu. Panggil mantri saja biar lebih cepat penyembuhan lukanya”&lt;br /&gt;            ***&lt;br /&gt;            Musim panen tiba. Biasanya orang-orang dari daerah lain datang untuk mengetam padi. Dengan prosentasi bagi hasil tujuh banding satu. Atau kalau sampai puncak musim panen. Bisa enam atau bahkan lima banding satu. Karena akan memasuki masa-masa sulit mencari tenaga buruh. Apalagi yang luas garapan ladangnya mencapai puluhan atau belasan hektar. Bisa jadi padinya lapuk dibatang. Lain lagi bagi Suratin. Dengan hanya menggarap sawah seluas dua hektar ia mampu menyelesaikan panennya kurang dari setengah bulan. Bahkan ia masih bisa mengetam ditempat tetangganya.&lt;br /&gt;            Hari itu awal bulan Maret 2008 . / bersambung&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4683969230623021230-3745936638340623301?l=sekamart.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4683969230623021230/posts/default/3745936638340623301'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4683969230623021230/posts/default/3745936638340623301'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sekamart.blogspot.com/2009/04/pencari-cinta-yang-tidak-pernah.html' title='Pencari Cinta yang tidak pernah berhasil'/><author><name>Sekam Art</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03351574825352934113</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://bp3.blogger.com/_PVt9-EJCYe0/R5HysCyc9iI/AAAAAAAAAAg/qOywEKwt6uU/S220/Sunset.bmp'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4683969230623021230.post-5299879407472465130</id><published>2009-03-01T20:06:00.003+07:00</published><updated>2009-03-01T20:20:11.754+07:00</updated><title type='text'>Puisi</title><content type='html'>Untuk Palestina yang hampir terlupakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biar seikat aroma wangimu kusimpan di bilik hati.&lt;br /&gt;Ditengah gontai yang menyelimuti.&lt;br /&gt;Rasa sesak bersama siulan mesiu kering melengkingkan kidung nestapa.&lt;br /&gt;Hujan bom menghancurkan negri.&lt;br /&gt;Peluru-peluru tajam menembus dada wanita dan anak-anak tak berdosa. Banjir darah di Gaza. Kini semua berlalu tanpa kepastian.&lt;br /&gt;Kemerdekaan didepan matapun tak kuasa untuk memetiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berapa ribu hasta lagi tanah yang menjanjikan itu akan dicaplok.&lt;br /&gt;Dan berapa ribu lagi diantara kita yang hanya diam terpana.&lt;br /&gt;Menyaksikan saudara kita dihina,...&lt;br /&gt;dijarah...!&lt;br /&gt;Disiksa....!&lt;br /&gt;Lalu diusir dari tanah lahirnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4683969230623021230-5299879407472465130?l=sekamart.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4683969230623021230/posts/default/5299879407472465130'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4683969230623021230/posts/default/5299879407472465130'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sekamart.blogspot.com/2009/03/puisi.html' title='Puisi'/><author><name>Sekam Art</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03351574825352934113</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://bp3.blogger.com/_PVt9-EJCYe0/R5HysCyc9iI/AAAAAAAAAAg/qOywEKwt6uU/S220/Sunset.bmp'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4683969230623021230.post-5337143846882773106</id><published>2009-01-11T17:40:00.005+07:00</published><updated>2009-01-11T18:00:42.352+07:00</updated><title type='text'>Kewajiban Umat Islam Terhadap Palestina</title><content type='html'>Kewajiban Umat Islam Terhadap Palestina&lt;br /&gt;Palestina Masalah Utama Umat Islam&lt;br /&gt;Tidak ada tanah yang lebih bergolak selain Palestina. Sejarah Palestina adalah sejarah panjang peperangan. Palestina adalah pusat tiga agama dan peradaban besar: Islam, Kristen, dan Yahudi. Ketiganya saling mempertahankan eksistensinya atas tanah suci di sana. Inilah tempat bertemunya bangsa-bangsa di satu titik konflik dalam kurun waktu yang sangat panjang. Tapi satu hal yang pasti, Palestina bukanlah tanah kosong tanpa bangsa (the land without nation), bukan pula milik Zionis Israel, sebuah bangsa yang tidak memiliki tanah (the nation without land).&lt;br /&gt;Bagi umat Islam Palestina adalah masalah utama karena Palestina merupakan tanah waqaf umat Islam. Di sana terdapat Al-Masjid Al-Aqsha, tempat para nabi dan rasul, tempat Isra’ Rasulullah saw., dan tempat yang sangat diberkahi.&lt;br /&gt;Palestina dalam Perspektif Syari’ah&lt;br /&gt;Palestina yang di dalamnya terdapat Al-Quds adalah tanah waqaf umat Islam, yang telah mereka warisi sejak lebih dari 6.000 tahun. Hal ini karena Ibrahim a.s. bukanlah seorang Yahudi dan bukan pula Nashrani, tetapi seorang yang hanif dan muslim; dan beliau tidak musyrik pada Allah. [Ali Imran (3): 67].&lt;br /&gt;Dari ayat tersebut sangat jelas disebutkan bahwa Palestina adalah warisan ideologis, bukan warisan genetis. Masuknya Musa ke tanah Palestina bukan karena nenek moyangnya orang Palestina, melainkan perintah keimanan dari Allah swt.&lt;br /&gt;Musa berkata, “Hai kaumku, masuklah ke Tanah Suci (Palestina) yang telah ditentukan bagimu (selama kamu beriman). Dan janganlah kalian lari ke belakang (karena takut kepada musuh), maka kalian akan menjadi orang-orang yang merugi.” [Al-Maidah (5): 21].&lt;br /&gt;[Al-Maidah (5): 21].&lt;br /&gt;Dari sudut pandang ideologis, bangsa mana pun berhak atas pengelolaan Palestina selama memiliki akar ideologi yang sama dengan ideologi yang diimani Musa juga nenek moyangnya Ibrahim.&lt;br /&gt;“Katakanlah, kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub, dan anak cucunya; dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa, serta apa-apa yang diberikan kepada nabi-nabi dan Tuhannya.” [Al-Baqarah (2): 136].&lt;br /&gt;[Al-Baqarah (2): 136].&lt;br /&gt;Karena itu, Zionis Israel Yahudi tidak memiliki hak waris atas tanah Palestina, baik dari Ibrahim, Musa, atau Ya’kub (Israel) yang merupakan nenek moyang mereka. Sebab, Palestina adalah warisan keimanan; dan Zionis Israel Yahudi saat ini berada dalam ruang keimanan yang berbeda, bahkan bertentangan dengan pendahulu mereka.&lt;br /&gt;Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’kub. “Hai anak-anakku, sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk Islam.” [Al-Baqarah (2): 132].&lt;br /&gt;[Al-Baqarah (2): 132].&lt;br /&gt;Bahkan, lebih tegas lagi pernyataan putusnya hubungan (bara’ah) dengan orang-orang yang tidak satu jalan keimanan dinyatakan oleh Musa ketika terjadi pembangkangan dari bangsa Israel.&lt;br /&gt;“Berkata Musa, ‘Ya Tuhanku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku. Sebab itu pisahkanlah antara aku dan orang-orang yang fasik itu’.” [Al-Maidah (5): 25].&lt;br /&gt;[Al-Maidah (5): 25].&lt;br /&gt;Dari sudut pandang keimanan, Palestina adalah warisan Islam. Bukan warisan tiga agama dan peradaban; Islam, Kristen, serta Yahudi yang sering disebutkan mempunyai akar yang sama, yaitu agama Ibrahim. Sebab, Ibrahim hanya memiliki satu agama, agama Islam.&lt;br /&gt;“Ataukah kalian, (orang-orang Yahudi dan Nasrani) mengatakan bahwa Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’kub dan anak cucunya adalah penganut agama Yahudi atau Nasrani? Katakanlah, apakah kalian yang lebih mengetahui atau Allah?” [Al-Baqarah (2): 140].&lt;br /&gt;[Al-Baqarah (2): 140].&lt;br /&gt;“Ibrahim bukanlah seorang Yahudi dan bukan pula Nashrani, tetapi seorang yang hanif dan muslim dan dia tidak musyrik pada Allah.” [Ali Imran (3): 67].&lt;br /&gt;[Ali Imran (3): 67].&lt;br /&gt;Palestina dalam Perspektif Sejarah&lt;br /&gt;Dilihat dari sudut pandang sejarah, Zionis Israel Yahudi tidak memiliki akar sejarah sebagai penduduk asli Palestina. Kedatangan mereka ke tanah Palestina pada permulaan akhir periode sebelum lahirnya Isa bin Maryam sampai permulaan masehi bukanlah sebagai pemilik, tetapi sebagai imigran dari Mesir. Begitu juga kedatangan mereka ke tanah Palestina saat ini yang berujung pada kolonialisasi. Sebelum masuknya bangsa Israel, Palestina telah dihuni oleh bangsa Kanaan yang merupakan nenek moyang bangsa Arab Palestina saat ini. Ini disebutkan dalam Kitab Bilangan XIII ayat 17-18, “Maka Musa menyuruh mereka mengintai tanah Kanaan… dan mengamat-amati keadaaan negeri itu; apakah bangsa yang mendiaminya kuat atau lemah, apakah mereka sedikit atau banyak.”&lt;br /&gt;Pernyataan serupa juga diceritakan dalam Al-Qur’an. Bahkan Al-Qur’an menyebutkan bahwa bangsa Israel itu tidak layak atas tanah Palestina karena perilaku mereka sendiri.&lt;br /&gt;Musa berkata, “Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan bagimu (selama kamu beriman). Dan janganlah kalian lari ke belakang (karena takut kepada musuh), maka kalian akan menjadi orang-orang yang merugi”. Mereka berkata, “Hai Musa, sesungguhnya di dalam negeri itu ada orang-orang yang gagah perkasa (bangsa kanaan). Sesungguhnya kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka keluar. Jika mereka keluar, pasti kami akan memasukinya.” Berkatalah dua orang di antara orang-orang yang takut kepada Allah yang Allah telah memberi nikmat atas keduanya, “Serbulah mereka melalui pintu gerbang kota ini. Maka bila kalian memasukinya, niscaya kalian akan menang. Dan hanya kepada Allah hendaknya kalian bertawakkal jika kalian benar-benar beriman.” Mereka berkata, “Hai Musa, sekali-kali kami tidak akan memasukinya selamanya selagi mereka ada di dalamnya. Karena itu, pergilah kamu bersama Tuhanmu dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya akan duduk menanti di sini saja.” Berkata Musa, “Ya Tuhanku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku. Sebab itu pisahkanlah antara aku dan orang-orang yang fasik itu.” Allah berfirman (jika demikian), maka sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun. Lalu, selama itu mereka berputar-putar kebingungan di bumi (padang Tiih) itu, maka janganlah kamu bersedih hati (memikirkan nasib) orang-orang fasik itu. [Al-Maidah (5): 21-26].&lt;br /&gt;[Al-Maidah (5): 21-26].&lt;br /&gt;Dalam sejarah Palestina, negeri itu pernah jatuh ke tangan Bangsa Israel pada permulaan Masehi. Pertempuran mereka dengan penduduk asli Palestina tercatat dalam kitab Samuel I, bab 13 dan 14 yang mengisahkan strategi Saul dan Yonatan yang menyerbu Michmas. “…Orang Filistin berkemah di Micmash… dan di antara pelintasan bukit-bukit yang dicoba Yonatan menyeberanginya ke arah pasukan pengawal Filistin… dan kekalahan yang ditimbulkan Yonatan dan pembawa senjatanya, besarnya kira-kira dua puluh orang dalam jarak kira-kira setengah alur dari pembajakan ladang.”&lt;br /&gt;Namun, pada tahun 70 M, kekuasan bangsa Israel itu runtuh seiring kematian Herodes dan masuknya kekuatan Romawi menguasai seluruh Palestina. Sejak itu bangsa Israel menjadi bangsa yang tidak memiliki tanah air dan tersebar di berbagai negara sampai mereka melakukan kolonialisasi kembali atas Palestina pada tahun 1967 M. (Richard Deason. Dinas Rahasia Israel, Jakarta, Yayasan Widya Pustaka: 1986, hal 3-4). Sementara itu, tanah Palestina menjadi tanah wakaf umat Islam pada masa pemerintahan Umar bin Khattab pada abad 7 M setelah Romawi ditaklukkan tentara Islam.&lt;br /&gt;Dalam hukum internasional dinyatakan bahwa yang berdaulat atas suatu wilayah adalah mereka yang pertama kali mendiami wilayah tersebut dan menunjukkan bukti eksistensi mereka atas wilayah tersebut berupa aktivitas dan bukti-bukti fisik yang menunjukkan kedaulatan mereka atas wilayah tersebut. Karena itu, bangsa Kanaan yang merupakan nenek moyang Arab Palestina saat ini adalah pemilik sah tanah Palestina.&lt;br /&gt;Keistimewaan Palestina (Al Quds) di Mata Umat Islam&lt;br /&gt;Umat Islam memandang Palestina sesuai dengan pandangan ajaran Islam dan sejarahnya yang sangat panjang. Palestina adalah bumi para nabi dimana mereka mengajarkan risalah tauhid kepada umatnya. Tidak ada sejengkal tanah di Palestina, kecuali di sana ada nabi yang shalat menyembah pada Allah dan menyampaikan ajarannya kepada umat. Dari mulai Nabi Ibrahim a.s. dan keturunannya Nabi Ishak a.s., Ya’qub a.s., Yusuf a.s. dan saudara-saudaranya. Kemudian Nabi Daud a.s. dan Sulaiman a.s. Seterusnya, Nabi Musa a.s., Harun a.s., Zakariya a.s., Yahya a.s., dan Isa a.s.&lt;br /&gt;Palestina –di mana masjidil Aqsha ada di sana– merupakan kiblat pertama umat Islam. Ini adalah penghormatan Islam pada Palestina yang memiliki sejarah panjang tempat para nabi dan tempat turunnya wahyu. Rasulullah saw. dan sahabatnya pernah shalat menghadap Al-Masjid Al-Aqsha selama sekitar 16 bulan. Kemudian Allah swt. mengubah kiblat umat Islam ke Masjidil Haram. Dan perubahan itu diabadikan Al-Qur’an. Perpindahan kiblat ini sendiri memiliki banyak hikmah yang banyak dirasakan umat Islam sampai sekarang.&lt;br /&gt;Allah memuliakan Palestina dengan Al-Masjid Al-Aqsha. Masjid ini disamping kiblat pertama umat Islam, juga masjid kedua yang dimuliakan Allah swt. dan tanah suci ketiga setelah Makkah dan Madinah. Rasulullah saw. bersabda, “Kalian tidak boleh mempersiapkan untuk melakukan perjalanan ziarah, kecuali pada tiga masjid; Al-Masjid Al-Haram, Masjid Rasul saw. dan Al-Masjid Al-Aqsa.” (Muttafaqun ‘alaihi)&lt;br /&gt;Di Masjid Al-Aqsha ini pula Rasulullah saw. melakukan isra’ dan di sini beliau memimpin shalat bagi para nabi dan rasul –suatu simbol bahwa Rasulullah saw. adalah pemimpin mereka. Kemudian dari Masjid Al-Aqsha, Rasulullah saw. melanjutkan perjalanannya menuju Sidratil Muntaha untuk menerina kewajiban yang paling agung, yaitu shalat lima waktu.&lt;br /&gt;Disamping tempat ini disucikan oleh Allah swt., tempat ini juga tempat yang diberkahi oleh Allah swt. Keberkahan dari nilai-nilai spiritual karena para nabi menyampaikan risalah di tempat ini, dan keberkahan materi karena kekayaan alam, kesuburan, dan letaknya yang sangat strategis serta alamnya yang indah. “Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjid Al-Haram menuju Al-Masjid Al-Aqsha yang Kami berkahi sekelilingnya.” [Al-Israa (17): 1].&lt;br /&gt;Demikianlah keistimewaan Al-Masjid Al-Aqsa, Baitul Maqdis, Al-Quds di Palestina ini. Maka sudah merupakan kewajiban seluruh umat Islam, bahkan seluruh manusia untuk menjaga dan menyelamatkannya dari berbagai macam penjajahan bangsa-bangsa yang terkutuk, utamanya bangsa Yahudi.&lt;br /&gt;Kewajiban Umat Islam terhadap Palestina&lt;br /&gt;1. Memahami Kondisi dan Problematika Palestina&lt;br /&gt;Kewajiban pertama yang paling fundamental bagi seorang muslim adalah memahami akar masalah Palestina (Al-Quds) bahwa masalah Palestina adalah masalah umat Islam. Perebutan kekuasaan yang terjadi di tanah suci itu bukan perebutan antara dua bangsa, Arab dan Israel. Tetapi, perang agama antara Islam dan Yahudi.“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik.” [Al-Maidah (5): 82].Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik.” [Al-Maidah (5): 82].Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Tidak akan terjadi kiamat sehingga kaum muslimin berperang dengan yahudi. Maka kaum muslimin membunuh mereka sampai ada seorang yahudi bersembunyi di belakang batu-batuan dan pohon-pohonan. Dan berkatalah batu dan pohon, wahai muslim, wahai hamba Allah, ini yahudi di belakangku, kemari dan bunuhlah ia; kecuali pohon gorqhod karena ia adalah pohon yahudi.” (HR Muslim).&lt;br /&gt;(HR Muslim).&lt;br /&gt;Masalah Palestina bukan hanya masalah bangsa Palestina dan bangsa Arab saja. Tetapi masalah seluruh umat Islam, bahkan masalah kemanusiaan secara keseluruhan. Atas dasar pandangan akidah inilah seluruh umat Islam wajib memahami kondisi dan permasalahan Palestina.&lt;br /&gt;2. Mensosialisasikan Kondisi dan Problematika Palestina kepada yang lain.&lt;br /&gt;Setelah memahami permasalahan dan kondisi Palestina, maka mereka harus mensosialisasikan pemahaman ini kepada seluruh umat Islam. Masih banyak umat Islam yang belum memahami kondisi dan permasalahan Palestina. Hal ini terjadi karena banyak sebab, di antaranya faktor lemahnya keimanan dan problematika yang dihadapi oleh umat Islam itu sendiri di seluruh dunia.Oleh karena itu setiap individu yang mengaku muslim harus memahamkan pada umat Islam yang lain di seluruh dunia bahwa masalah Palestina adalah masalah utama umat, dan masa depan umat akan sangat terkait dengan perjuangannya terhadap Palestina. Bahwa di Palestina ada Al-Masjid Al-Aqsa kiblat pertama umat Islam yang sedang terancam. Bahwa Rasulullah saw. memimpin shalat berjama’ah yang diikuti oleh para nabi dan rasul pada peristiwa Isra’ yang merupakan pewarisan tanah Palestina pada umat Islam. Bahwa Umar bin Khattab r.a. menerima penyerahan kunci langsung Kota Palestina (Al-Quds).&lt;br /&gt;3. Jihad dengan Harta&lt;br /&gt;Kewajiban selanjutnya bagi umat Islam adalah berjihad dengan harta mereka. Umat Islam harus menyisihkan sebagian rezekinya minimal 1% untuk perjuangan Palestina. Karena jihad di Palestina sangat membutuhkan harta. Dan di sana juga banyak janda, anak yatim, anak sekolah, mahasiswa, orang yang kehilangan rumah dan pencaharian akibat konflik dan perang yang belum diketahui akhirnya. Semua itu sangat membutuhkan uluran tangan umat Islam lainnya yang mampu.&lt;br /&gt;4. Jihad dengan Jiwa&lt;br /&gt;Terdapat perbedaan mendasar dalam sifat perang di Palestina. Bila perang di Palestina dinyatakan sebagai perang antara dua bangsa atau dua negara, maka tidak boleh ada keterlibatan pihak lain di luar dua pihak yang bertikai tanpa ada permintaan untuk terlibat dari salah satu pihak yang berperang. Keterlibatan tanpa ada permintaan untuk terlibat berarti pelanggaran kedaulatan sebuah negara yang bertentangan dengan hukum internasional. Kenyataan yang terjadi adalah bahwa perang di Palestina adalah perang agama antara Islam dan Yahudi yang mengundang keterlibatan semua umat Islam dan kaum Yahudi di seluruh dunia, di setiap bangsa dan negara mana pun. Maka, hukum perang di Palestina adalah jihad fii sabiilillah yang diwajibkan atas setiap umat Islam di seluruh dunia sesuai dengan kondisi mereka di setiap tempat.“Diwajibkan atas kalian berperang sedangkan kalian membencinya. Barangkali kalian membenci sesuatu, tetapi itu baik bagi kalian. Dan barangkali kalian menyukai sesuatu sedangkan itu buruk bagi kalian. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian tidak ketahui.” [Al-Baqarah (2): 216][Al-Baqarah (2): 216]&lt;br /&gt;“Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, tidak akan meminta izin kepadamu untuk (tidak ikut) berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang bertakwa.” [At-Taubah (9): 44]&lt;br /&gt;[At-Taubah (9): 44]&lt;br /&gt;Palestina adalah tanah waqaf umat Islam yang harus dipertahankan sampai kapan pun. Pembelaan kita terhadap Palestina bukan karena mereka orang-orang Arab, melainkan karena mereka adalah muslim dan karena Palestina adalah salah satu dari tiga tempat suci umat Islam yang dimuliakan Allah. Karena itu, permasalahan Palestina harus dijadikan konsentrasi utama umat Islam.&lt;br /&gt;5. Doa&lt;br /&gt;Dan kewajiban yang paling minimal yang harus terus dilakukan oleh setiap umat Islam adalah berdoa. Doa orang beriman kepada saudaranya tanpa sepengetahuan mereka adalah maqbul ./ Dakwatuna.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="Geser ke atas" href="http://www.dakwatuna.com/2007/kewajiban-umat-islam-terhadap-palestina/##"&gt;Ke atas&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4683969230623021230-5337143846882773106?l=sekamart.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sekamart.blogspot.com/feeds/5337143846882773106/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4683969230623021230&amp;postID=5337143846882773106' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4683969230623021230/posts/default/5337143846882773106'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4683969230623021230/posts/default/5337143846882773106'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sekamart.blogspot.com/2009/01/kewajiban-umat-islam-terhadap-palestina.html' title='Kewajiban Umat Islam Terhadap Palestina'/><author><name>Sekam Art</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03351574825352934113</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://bp3.blogger.com/_PVt9-EJCYe0/R5HysCyc9iI/AAAAAAAAAAg/qOywEKwt6uU/S220/Sunset.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4683969230623021230.post-1949622974376360299</id><published>2008-09-08T19:30:00.003+07:00</published><updated>2008-09-08T19:53:20.485+07:00</updated><title type='text'>Benarkah Politik itu kejam?</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pola orang licik pakai taktik.&lt;em&gt;&lt;strong&gt; ( Politik ).&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Dulu saya paling anti untuk ikut berpolitik. Menurut saya politik itu tidak lebih dari satu bentuk predator. Destroyer yang akan menghancurkan pesaing-pesaingnya. Dalam perhelatan politik seolah seluruh cara diperbolehkan guna menumbangkan lawan politiknya. Dunia politik tidak jauh berbeda dengan kehidupan di hutan belantara. Siapa yang kuat dia yang dapat. Kecerdasan. Dan pengalaman seseorang bisa sangat mudah dipatahkan dengan uang. Itu artinya dalam politik yang seperti ini nalar sehat tidak berlaku lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti halnya pada Pilgub Sum-Sel 4 September silam 2008. Demokrasi disini benar-benar telah terkubur hidup-hidup. Bukan hati nurani rakyat yang menjadi bahan perebutan. Melainkan sekadar sabung politik tingkat ellit yang terjadi. Antara Banteng dan Beringin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keduanya memiliki peta kekuatan yang sama. Namun beringin lebih pandai membentangkan daunnya untuk memberi naungan yang berada disekitarnya. Dengan iming-iming yang serba gratis. Baju. Sarung. Atau setoples Kurma dan uang lima puluh ribu rupiah. Ia yakin mampu menukarnya dengan suara rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya disini orang-orang pinggiran yang buta tentang politik. Langsung menyambut dengan berbondong-bondong. Paling tidak mereka yang mempunyai anak banyak. Bisa sekolah dan berobat gratis. Tanpa berpikir apakah obat dan peralatan sekolah itu bisa dibuat sendiri. Dokter, perawat dan guru mungkin juga rela untuk tidak dibayar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Sang Banteng dengan kekuatannya mampu menstabilkan keamanan, pemerataan pembangunan. Serta mampu memadukan berbagai kultur budaya dan latar belakang tradisi dalam wadah yang begitu indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah lupakan saja.&lt;br /&gt;Tidak banyak yang tahu. Politik merupakan sentimentil publik yang akan memeperberat beban rakyat. Bila dari awal sudah dirancang untuk memimpin dengan memberikan umpan. Memberi materi sekecil apapun bentuknya.&lt;br /&gt;Janganlah mempercayakan tampuk kepemimpinan kepada orang yang memberi uang pada saat ia ingin menjadi pemimpin. Setidaknya ia pasti akan mencari untung dari apa yang telah ia berikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mestinya dalam berpolitik tidak harus seperti itu. Tidak harus kejam dengan ucapan manis dan janji-janji. Apalagi black campaign untuk menjatuhkan lawannya. Mirip Zionis. Kita saat ini butuh kandidat muda yang enerjik, cerdas dan berani. Seorang pemimpin seperti Umar bin Khattab. Jujur, amanah dan adil. Semoga di Sumatra Selatan ini masih ada figur seperti itu. Yang berani membawa Provinsi ini pada kemajuan. Perubahan dalam peradaban aklak dan pekerti yang santun. Semoga.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4683969230623021230-1949622974376360299?l=sekamart.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4683969230623021230/posts/default/1949622974376360299'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4683969230623021230/posts/default/1949622974376360299'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sekamart.blogspot.com/2008/09/benarkah-politik-itu-kejam.html' title='Benarkah Politik itu kejam?'/><author><name>Sekam Art</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03351574825352934113</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://bp3.blogger.com/_PVt9-EJCYe0/R5HysCyc9iI/AAAAAAAAAAg/qOywEKwt6uU/S220/Sunset.bmp'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4683969230623021230.post-5703534030997249193</id><published>2008-09-06T14:30:00.003+07:00</published><updated>2008-09-06T18:59:53.356+07:00</updated><title type='text'>Media,...!! Jangan Adu domba kami dalam Pilkada Sum-Sel</title><content type='html'>Tanggal 4 September 2008 warga Sumatra Selatan kembali berebut sosok figur pemimpin yang mereka dambakan melalui ajang pemilihan Gubernur dan wakil gubernur Sum-Sel periode 2008-2013. Pilkada kali ini termasuk alot dan mendebarkan. Bahkan konyol. Bagaimana tidak beberapa jam setelah pemungutan suara terdapat hasil yang berbeda. Berdasarkan penghitungan cepat LSI, untuk sementara pasangan Alex Noerdin-Eddy Yusuf yang diusung koalisi Partai Golkar, Partai Demokrat, Partai Bulan Bintang, Partai Bintang Reformasi, dan Partai Nasional Banteng Kemerdekaan (PNBK), meraup 52,23 persen suara.&lt;br /&gt;Syahrial Oesman-Helmi Yahya yang dijagokan koalisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Partai Keadilan Sejahtera, Partai Persatuan Pembangunan, dan sejumlah partai politik kecil meraih 47,77 persen suara. Dari 400 TPS sampel dan jumlah pemilih 78%&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan hasil perolehan suara dari perhitungan cepat Puskaptis. Sohe unggul dengan selisih tipis atas pasangan Aldy, yaitu 50,40 persen dan 49,77 persen dari 600 TPS sampel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya dua tv swasta hanya menayangkan live 2 dari 3 hasil quick count lembaga survei yaitu LSI dan LSI-JIP. Metro tvpun tidak tanggung-tanggung segera mendeklarasikan kemenangan ALdy. Padahal hasil perhitungan belum Final.&lt;br /&gt;Sementara ketika saya tanyakankepada salah satu crew tv one tentang tidak diikutsertakan Puskaptis dalam quick count Pilkada Sum-Sel, ia menjawab dengan singkat. "Puskaptis tidak menjalin kerja sama dengan kami".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian Media telah berhasil menggiring opini publik, melemahkan semangat para pendukung kandidat yang kalah. Dan menambah kepercayaan diri yang berlebihan pada pemegang jago yang menang. Akan tetapi tidak seluruh masyarakat menerima begitu saja. Warga bukanlah orang ndeso semua. Akan tetapi masih banyak mereka yang berpola pikir cerdas. Wajar bila ada yang menyatakan ini adalah sebuah konspirasi politik yang sangat buruk. Antara lembaga survey dan stasiun tv seolah telah dibeli. Sehingga belum dua jam penghitungan sudah ada yang keluar sebagai pemenangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya masyarakat dibuat semakin bingung. Berita pagi disetengah halaman depan dengan judul ; Alex Nurdin Gubernur Baru Sum-Sel. Sementara Sumeks dan Sripo di penuhi dengan iklan ucapan Selamat atas kemenangan Kedua Pasangan Cagup dan Cawagup. Jadi kedua-duanya menang. Sementara KPU memberikan statement ; yang mengklaim menang Prematur. Anton&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4683969230623021230-5703534030997249193?l=sekamart.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4683969230623021230/posts/default/5703534030997249193'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4683969230623021230/posts/default/5703534030997249193'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sekamart.blogspot.com/2008/09/media-jangan-adu-domba-kami-dalam.html' title='Media,...!! Jangan Adu domba kami dalam Pilkada Sum-Sel'/><author><name>Sekam Art</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03351574825352934113</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://bp3.blogger.com/_PVt9-EJCYe0/R5HysCyc9iI/AAAAAAAAAAg/qOywEKwt6uU/S220/Sunset.bmp'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4683969230623021230.post-7030599940178605869</id><published>2008-05-31T20:42:00.000+07:00</published><updated>2008-05-31T20:44:00.967+07:00</updated><title type='text'>Sajak Antoni Farhan</title><content type='html'>Bukan suara kosong&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menemuimu di Bundaran air mancur.&lt;br /&gt;Seperti menunggu sebuah kematian.&lt;br /&gt;Yang tidak pernah aku tahu.&lt;br /&gt;Hadirmu berupa kain kafan yang terbentang.&lt;br /&gt;Menyelimuti subuh.&lt;br /&gt;Pagi itu di bundaran air mancur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya aku tidak berani berjanji&lt;br /&gt;Saat Matahari enggan berkolaborasi dengan bintang.&lt;br /&gt;Sebab di dalam hati ini telah tahu.&lt;br /&gt;Tentang keraguan yang terukir&lt;br /&gt;pada dinding kabut disekitar bundaran air mancur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mesti tidak kupersembahkan seribu aksi&lt;br /&gt;Menurutmu itu demi perubahan.&lt;br /&gt;Demikian napasku telah terengah&lt;br /&gt;Aku mengejarmu sampai diujung Thamrin&lt;br /&gt;Hanya sketsa pelangi usanglah yang menunggu&lt;br /&gt;Bersama mendung dan rintik gerimis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini bukan jawabku.&lt;br /&gt;Dari malam hingga ke pagi lalu kepuncak sunyi&lt;br /&gt;Aku tidak pernah turun kejalan&lt;br /&gt;Berorasi tentang harga-harga yang melambung tinggi&lt;br /&gt;Beri aku kesempatan untuk mencari&lt;br /&gt;Kebutuhan belanja hari ini.&lt;br /&gt;Sebelum akhirnya kelaparan menghantui&lt;br /&gt;Aku tidak akan lagi berorasi&lt;br /&gt;Mungkin.&lt;br /&gt;Diam atau mati.&lt;br /&gt;Atau menjarah seluruh isi negri&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4683969230623021230-7030599940178605869?l=sekamart.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4683969230623021230/posts/default/7030599940178605869'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4683969230623021230/posts/default/7030599940178605869'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sekamart.blogspot.com/2008/05/sajak-antoni-farhan.html' title='Sajak Antoni Farhan'/><author><name>Sekam Art</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03351574825352934113</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://bp3.blogger.com/_PVt9-EJCYe0/R5HysCyc9iI/AAAAAAAAAAg/qOywEKwt6uU/S220/Sunset.bmp'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4683969230623021230.post-1110145619550368071</id><published>2008-05-22T17:35:00.002+07:00</published><updated>2008-05-22T17:48:39.406+07:00</updated><title type='text'>Seorang perempuan yang menderita</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;Seorang perempuan yang menderita &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Cerpen Oleh Antoni Farhan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ia mulai tersudut ditengah-tengah keluarganya. Sang ibu yang dulunya lemah lembut dan penuh perhatian kini menjadi acuh. Bahkan kadang terlalu pedas ucapannya. Menyentilnya, tidak jarang dirinya seperti telah dihempaskan di dasar kotak sampah. Tidak memiliki harga lagi. Mungkin dirinya terlalu egois. Atau perasaan cinta yang telah membutakan mata hatinya.&lt;br /&gt;“Bukankah jodoh itu Tuhan yang mengatur….” Hatinya memberontak.&lt;br /&gt;“Kenapa.. kenapa aku harus dijodohkan…? Aku tidak mau. Biarkan aku mengambil keputusan sendiri. Ini hidupku. Duniaku, dan akulah yang akan menjalani hidupku. Dengan seluruh duka citanya. Maafkan aku… sekiranya aku tidak mampu memenuhi harapan kalian. Ayah. Ibu..” keteguhan hati dan karakternya yang keras membuat kedua orang tuanya tak berdaya. Mereka tidak sanggup untuk menyeret dan menikahkan putri kelimanya itu dengan calon menantu pilihan mereka. Perempuan itu memang memiliki karakter yang berbeda bila di banding dengan kelima saudaranya. Keras kepala dan galak. Meski secara fisik dialah yang paling jelita. Apapun alasannya kebahagiaan putrinya adalah kebahagiaan mereka juga. Akhirnya perempuan itu menikah dengan calon suami pilihan sendiri. Resepsinyapun terlaksana dengan sangat meriah. Mesti perempuan itu harus menghadapi seribu tirani dari sang ayah.&lt;br /&gt;Setelah menikah perempuan yang usianya baru menginjak dua puluh tiga tahun itupun turut suaminya. Tinggal di Pring Sewu. Berpisah dari keluarganya yang sudah lama menetap di kota Metro Lampung tengah. Ia sudah lupa sejak kapan keluarganya tinggal disana. Sepengetahuan dia, dulu ayahnya sering pindah tugas. Selain dinas di sekitar pulau Jawa, juga pernah di Kalimantan, Sulawesi dan sebagian Sumatera. Namun hanya sebentar-sebentar. Terakhir ayahnya dinas di kota Bandar Lampung hingga pensiun menjadi anggota Polisi. Namun pangkatnya tidak terlalu tinggi karena latar belakang pendidikan sang ayah hanya setingkat SMA. Setelah merasa betah di sana, sang ayah memboyong seluruh anggota keluarga meninggalkan kota Kediri. Tanah lahirnya.&lt;br /&gt;Perempuan itu punya cita-cita, ingin membuktikan kepada orang tuanya bahwa kebahagiaan bukan kemewahan semata. Oleh karenanya dia tidak mau dijodohkan dengan seorang perwira polisi. Putra kedua dari salah satu relasi ayahnya dulu sewaktu masih dinas. Ia juga tidak mau kalah dengan saudara-saudaranya yang rata-rata sudah hidup mapan. Mengelola perusahaan mereka masing-masing. Minimal ia bisa mandiri, tidak selalu bergantung dan menurut pada orang tuanya. Ia menganggap dirinya sudah dewasa, bebas untuk mengambil keputusan sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Astaghfirullah..!!”Perempuan bermata lebar dan berbibir tipis itu menghela napas, seperti ada sesuatu yang menyumbat dalam diafragma. Sebuah kalimat kurang sedap terdengar dari bisikan-bisikan tetangga.&lt;br /&gt;“Sstt..Suaminya sudah tiga hari tidak pulang, ia tinggal satu atap bersama seorang perempuan lain. Wanita simpanan..”. cetus seorang ibu kepada teman sebelahnya saat mereka memilih sayur di warung. Mesti ia mendengar, dengan seluruh kekuatan batin ia berusaha untuk tidak terprovokasi. Sebelum melihat dengan mata kepalanya sendiri atau mendengarkan langsung atas pengakuan sang suami. Walau ia kuatir, sudah hampir satu minggu suaminya tidak kembali ke rumah. Lelaki yang digadang-gadangkan selama ini telah berubah. Menjadi orang asing dalam rumahnya. Padahal mereka sudah hidup bersama hampir tiga tahun. Tabiatnya lambat laun berubah, mencapai seratus delapan puluh derajat. Karena kebebasan yang diberikan telah disalahgunakan. Dengan leluasa laki-laki itu keluar masuk rumah hingga larut malam. Bahkan tidak pulang sama sekali. Dengan segala tetek bengek alasan. Rasa takut juga menghantui dirinya sanggupkah ia mempertahankan keutuhan rumah tangganya. Karena suaminya benar-benar telah berubah total. Budi pekertinya selama ini hanya menjadi kamuflase belaka. Untuk mempersunting dirinya, menghisap madu dan menikmati kecantikan tubuhnya. Bagaimana tidak lelaki yang dikenalnya sebagai aktivis kampus. Dengan kehidupan yang bersahaja dan selalu taat beribadah, telah berubah menjadi pemabuk dan tukang judi. Ia tidak pernah tahu mengapa begitu, andai dirinya tahu pastinya dia tidak mau menikah dengan lelaki itu. Tentang watak suaminya yang suka mempermainkan wanita, seperti apa yang di ucapkan ibu-ibu tadi. Segera ia tepis, semoga suaminya tidak.&lt;br /&gt;Dari waktu kewaktu perilaku suaminya semakin menyesakkan dada. Membuat malu. Namun dengan sabar ia berusaha untuk menjadi seorang istri yang baik. Selalu memenuhi hak dan kebutuhan suami, dari memasak mencuci pakaian bahkan melayani suaminya saat diatas ranjangpun ia lakukan sepenuh hati. Dengan harapan agar suaminya berubah. Kembali dari jalan yang salah.&lt;br /&gt;Keadaan belum juga membaik, malah semakin buruk. Suatu saat suaminya pulang terlalu larut, mulutnya beraroma alkohol. Dengan lembut ia berusaha menegur. Diluar dugaan, laki-laki itu semakin bengis.&lt;br /&gt;“Plakk..” Tamparan keras mendarat di pipi kiri. Belum puas juga. Mungkin masih terbawa emosi. Dia baru menderita kekalahan dalam berjudi, yang membuatnya semakin tidak sanggup menguasai dirinya. Dengan gagah berani di depan istrinya. Lelaki itu membabi buta, kepalan tangannya meninju perut perempuan itu. Padahal didalamnya sedang mengandung janin, tujuh bulan lima hari.&lt;br /&gt;Perempuan itu mengerang kesakitan. Menahan sesak dalam perutnya. Dan juga nyeri yang tiada tara.&lt;br /&gt;“Aduhh.. aduh.. Sakit..!!” tanpa sadar karena sakit yang dideritanya teramat sangat, janin didalam perutnya terlahir. Mesti prematur. Sayangnya bayi laki-laki itu kurang beruntung, harus menghembuskan napas terakhir sebelum kotak inkubator menghangatkan tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata perempuan itu menerawang jauh ke langit-langit. Melukis impian dengan warna cat yang telah memudar. Kanvasnyapun sudah lusuh. Ia tidak sanggup lagi menggoreskan keindahan. Walau segaris. Karena kuas yang digunakan juga sudah tidak tajam lagi. Demikian. Tentang hidupnya. Indah mahligai rumah tangga hanya sebatas angan. Hidup bersama penuh mesra dan canda tawa kini menjadi penggalan mimpi pahit baginya. Pernikahannya telah berubah menjadi ring tinju, tempat saling menjatuhkan antar lawan. Ia sadar dengan melawan dirinya tidak akan menang juga. Baginya lebih baik diam, tanpa memberontak. Pasrah dalam ketidak berdayaannya. Untuk mengadu pada orang lain, ia sangatlah malu.&lt;br /&gt;Waktu berlalu, mesti terasa lama baginya. Dengan sabar ia masih setia menemani lelaki itu. Hingga Tuhanpun memberinya seorang sahabat. Srikandi yang terlahir dari rahimnya sendiri. Darinya ia punya keinginan, agar kelak Srikandi itu mampu merubah tabiat ayahnya. Paling tidak saat ini predikat suminya sudah berubah. Menjadi seorang ayah. Siapa sih yang tidak bangga menjadi seorang ayah. Apalagi Srikandi itu sangat cantik dan lucu. Menggemaskan, pelipurlara atas seluruh derita.&lt;br /&gt;Perempuan itu berusaha menatap masa depan dengan mata pandangnya yang sayu. Walau telah bersusah payah dengan keyakinan batinnya. Betapa pedih telah kehilangan matahari. Tatapannya selalu pekat. Gelap tanpa warna yang menyenangkan hatinya. Ia begitu berharap akan ada cahaya menemani hari-harinya. Namun ia bingung, akan kemana mencari. Karena teman disisinya tak mampu lagi memberikan tentang indahnya warna fajar dipagi hari. Walau ia harus mengemis, memeras air mata didepan lelakinya.&lt;br /&gt;Seperti tidak ada tanda-tanda akan berbenah pada diri suaminya itu. Pergaulannya semakin bebas, padahal ia seorang nahkoda dalam biduk tumah tangga. Mestinya membimbing anak dan istri menuju Sorga. Ini tidak. Lelaki itu terlalu egois, menuruti nafsunya, tanpa berpikir tentang anak dan istri di rumah. Apalagi masa depan. Tentang hidup setelah kematiannya. Mengenai Sorga atau Neraka. Ah. Semua seperti tidak akan ada kesudahnnya. Ia semakin liar, satu minggu dua minggu bahkan satu bulan tidak pulang. Terakhir lima bulan sekaligus laki-laki itu tidak menginjakkan kaki dirumah. Seperti yang sudah-sudah. Setiap kali dia pulang dia akan menjual isi rumah yang masih layak untuk dijual. Guna dijadikan modal. Judi. atau ngelayap tidak jelas juntrungannya. Pernah sekali masa perempuan itu memergokki suaminya tinggal satu atap dengan seorang perempuan simpanan. Cibiran tetangga selama ini ternyata benar. Ia semakin nelangsa. Dan hanya mampu mengusap dadanya. Dalam kepekatan meniti jalan hidupnya.&lt;br /&gt;Pertengkaranpun terjadi kembali. Matian-matian perempuan itu mempertahankan tivi dan sebagian perhiasannya yang hendak dijual suaminya.&lt;br /&gt;“barang ini kan sisa pemberian ibu, aku harus mempertahankannya. Tidak. Ini tidak boleh dibiarkan. Aku harus bangkit” sejenak ia memutar otaknya. Mengenai barang-barangl yang masih tersisa karena itu merupakan pemberian dari orang tua. Malu bila semua habis, apa yang mesti ia ucapkan didepan sang ibu nantinya.&lt;br /&gt;“Mas…! Kalau sekiranya aku tidak bisa membuatmu bahagia. Silakan mas menikah lagi. Tapi tolong hentikan kebiasaan buruk mas..! aku tidak sanggup kalau mas begini setiap kali pulang. Lihat anak kita mas,….masa depan dia. Masa depan rumah tangga kita..!!”&lt;br /&gt;“ aah.. banyak bacot..!!” merasa digurui lelaki itu berang.&lt;br /&gt;“Plakk,…” untuk kesekian kali telapak tangan suaminya mendarat dipipi kirinya.&lt;br /&gt;Perempuan itu diam seribu basa mesti amarahnya terbakar, saat ia hendak memberikan perlawanan sebuah mobil masuk kehalaman rumahnya. Kakak sulung bersama istri dan dua orang anaknya. Mungkin sengaja berkunjung atau sekadar singgah sebentar. Saat berlibur setelah jenuh dengan rutinitas kesehariannya sebagai pengelola sebuah lembaga pendidikan di kota Palembang. Biasanya mereka menginap di rumah orang tuanya satu atau dua malam. Menyambangi orang tua disaat mereka menikmati masa pensiun. Demikian. Agar tali silaturahmi tetap terjaga.&lt;br /&gt;“Kalian ini kenapa,…?” tanya lelaki Parobaya yang bertubuh tambun tersebut.&lt;br /&gt;“Tidak mas,…tidak ada apa-apa kok?” perempuan itu berusaha membohongi dirinya sendiri. Disaat yang sama suaminya pergi menghilang begitu saja.&lt;br /&gt;“Sudahlah,..ibu sudah banyak cerita. Itu sebabnya mengapa aku kesini, mesti tidak sepenuhnya aku bisa membantu. Pastinya aku turut prihatin dengan apa yang telah terjadi. Ya. Semua memang telah berlalu, jika masih bisa diperbaiki apa salahnya dicoba untuk berbenah…”&lt;br /&gt;“Mas,.. aku tidak sanggup. Malu. Aku malu mas,…?”&lt;br /&gt;“Tidak perlu menyalahkan dirimu. Mungkin ibu sudah kecewa. Tapi tidak mungkin akan mendiamkan kalian begitu saja…”&lt;br /&gt;“Aku selama ini sudah bertahan. Mengalah dan bersabar, tapi apa yang aku dapat. Lahir batinku semakin didera luka. Pedih yang sulit untukku sembuh mas. ”&lt;br /&gt;“Sudah,.. pasrahkan pada yang diatas. Sabar dan tawakkal. Mungkin saat ini emosimu sedang memuncak. Tenangkan pikiranmu. Ingat. Tuhan tidak akan memberikan beban diluar batas kesanggupan hamba-Nya”..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keputusannya sudah bulat. Ia merasa tidak ada jalan lagi selain tekadnya itu. Cerai. Sebagai seorang perempuan tentunya ia tidak bisa memutuskan sendiri. Bagaimanapun tali kekang itu lelakinya yang memegang. Ia lalu menggugat cerai ke pengadilan. Mesti itu butuh waktu. Dua, tiga atau bahkan empat kali pertemuan sidang di meja hijau. Baginya semua itu hanya formalitas saja. Karena ia sudah teguh dalam pendiriannya. Lagipula suaminya terlalu pengecut. Enggan hadir dipersidangan terakhir. Tentang hak asuh dan pemberian nafkah sikecil buah hati mereka. Kembali pada sang ibu. Dengan susah payah perempuan itu tentunya akan berjuang. Menorehkan prestasi terbaiknya untuk si kecil tercinta.&lt;br /&gt;Tidak akan ada penyesalan dikemudian hari. Mesti terlampau berat langkah kakinya mengawali status barunya sebagai single parent. Ia tidak kuasa menepis ketetapan yang telah digariskan. Siang dan malam mengharap rindu. Walau harus menjadi madu. Tapi nestapa itu kini kian menusuk jantungnya. Saat melihat putri tunggalnya tertidur. Melingkari bantal kedinginan. Saat ia bertanya tentang ayah. Bukan saja membangkitkan rindu pada sosok seorang suami. Empedunyapun terasa telah dicabik-cabik taring keegoisan. Mulutnya memagut rapat. Terasa pedih bila perpisahan itu dikenang. Untuk apa mengenangnya?. Bila akan menggerogoti luka lama. Namun ia bahkan tersudut, manakala gadis kecil itu menunggu hingga kapan ayahnya kembali?. Air mata perempuan itu masih saja mengalir. Walau telah dikuras, tidak kunjung kering juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat cerita. Melihat kondisi adik perempuannya yang terkatung-katung menapaki jalan hidup setelah rumah tangganya berantakan. Kakak sulung perempuan itu mengajaknya bekerja di lembaga pendidikan yang ia kelola. Sebagai staff administrasi. Hitung-hitung kegiatan itu akan membantu melupakan masalahnya.&lt;br /&gt;Tanpa terasa dua tahun lebih telah berlalu, sikecilpun sudah memasuki ruang sekolah dasar. Selama itu pulalah banyak sekali lelaki yang menggodanya. Namun dengan kekuatannya ia terus menolak. Lelaki yang notabene ngegombal dan juga memandangnya sebelah mata. Entahlah. Justru suatu hari perempuan itu tergoda dengan sosok lelaki yang diperkenalkan oleh salah satu siswi yang kebetulan magang dikantor tempat laki-laki itu bekerja. Memang mereka tidak secara langsung bertemu. Chat, sms maupun obrolan melalui telpon yang telah mengakrabkakan mereka. Kebetulan lokasi dinas lelaki itu diluar kota Palembang.&lt;br /&gt;Pertemuan dengan lelaki itu membuat jantungnya semakin berdebar kencang. Ia tidak bisa membohongi hati kecilnya. Tentang hasrat dan cintanya. Saat suatu hari laki-laki itu mengajaknya makan siang bersama di KFC. Namun ia sadar cintanya akan berjalan tidak sebagaimana mestinya. Pasalnya lelaki itu sudah memiliki istri dan satu anak. Meski saat itu keadaan rumah tangga mereka bagai diujung tanduk. Itu menurutnya menurut cerita lelaki itu. Yang tidak pernah puas dengan pelayanan istrinya. Yang selalu menuntut lebih dari kemampuanya. Dan masih sederetan lagi permasalahan yang membelitnya. Hingga tampak beban berat di wajah lelaki itu. Meski umurnya tiga tahun lebih muda darinya. Janda muda itu ingin sekali mengulurkan tangannya, memberikan semangatnya untuk lelaki itu. Ingin sekali ia menjadi bunga dihatinya. Dan itu cukup dianya saja yang tahu.&lt;br /&gt;Namun ketika lelaki itu ingin melamarnya dan sebelum dia menceraikan istrinya perempuan itu segera berkata jangan.&lt;br /&gt;“Cukup aku saja yang merasakan pahitnya perceraian. Jangan ada lagi didunia ini, terlalu sakit rasanya mas. Sakit. Ingat masa depan sikecil mas. Dia akan sangat terpukul bila tahu telah ditinggalkan ayahnya. Sekarang pulang dan kembalilah pada anak dan istrimu,..”&lt;br /&gt;“Tapi aku mencintaimu sayang…”&lt;br /&gt;“Aku tahu itu mas,…. Bahkan perasaan cintaku lebih dari itu. Sebenarnya aku sangat kecewa mengapa pertemuan kita tidak dari dulu. Andai waktu bisa kuputar. Akan kuulang jalan hidupku. Cukup dirimu bagiku dan kan kupersembahkan baktiku untukmu mas…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu senja di pelataran Benteng Kuto Besak. Semilir angin mengelus daun-daun palm. Matahari telah jauh tergelincir diarah barat. Perempuan itu duduk di pagar pembatas sungai Musi. Tepat membelakangi bundaran air mancur yang berada ditengah lapangan. Ia menatap ke Seberang Ulu. Kapal-kapal yang tertambat ditepian. Juga terlihat olehnya warna biru, kuning dan merah atap rumah warga. Semarak visit Musi.&lt;br /&gt;Lelaki itu mengajak bertemu di BKB. Sebenarnya ia keberatan untuk bertemu disana. Namun hidupnya kini seperti dua mata pisau. Yang sama-sama akan menimbulkan luka. Bila ditolak, padahal selama ini ia telah memendam rindu. Namun bila diiyakan tentu akan menjadi benalu.&lt;br /&gt;Ia sudah jenuh, berapa lama lagi untuk menunggu. Kehadiran lelaki yang telah mencuri hatinya. Memadu janji ditempat ini. Sembari menikmati hidangan River Side restaurant, satu-satunya restoran terapung disudut halaman Benteng Kuto Besak. Ini atas permintaan lelaki itu. Menemuinya disana. Sebenarnya ia keberatan. Namun ia tidak kuasa menyapih hasratnya. Untuk berbagi dan mencurahkan tentang hatinya yang gundah.&lt;br /&gt;“Maaf aku gak bisa datang, istriku mulai curiga,..” begitu kira-kira Penggalan pesan singkat yang ia terima melalui ponselnya.&lt;br /&gt;Perempuan itu mengernyitkan alisnya. Ia berusaha berpikir rasional.&lt;br /&gt;“Kenapa aku jadi pengganggu rumah tangga orang..??” pikirnya. Ia merasa begitu berdosa telah menjadi duri dikeluarga lelaki itu. Sesaat kemudian ia melupakan tentang pertemuannya. Sungguh tidak mudah untuk mengurai kekecewaan menjadi bias rona merah dipipinya. Saat senyum terasa begitu berat.&lt;br /&gt;“Dasar pelacur, sudah berapa kali kau ditiduri suamiku. Jangan lagi beri harapan pada suamiku. Kita sama-sama perempuan, kau juga akan sakit bila berada dipihakku… kumohon carilah lelaki lain. Jangan lagi mengganggu rumah tangga orang,…!!” Suara itu tiba-tiba menggelegar bagai halilintar yang menggetarkan langit. Walau suara itu berasal dari tempat yang ia tidak tahu. Pastinya adalah suara istri lelaki yang mengajaknya bertemu tadi. Yang kebetulan memergoki nomor handphonenya yang tersimpan di hp suaminnya. Wajar bila istrinya menginvestigasi. Sayangnya perempuan itu tidak diberi kesempatan untuk berbicara. Padahal hubungan mereka tidak seburuk itu. Hal itu membuatnya semakin terbengong. Dan menjadi beban yang tidak bisa ia lupakan. Lalu seketika perempuan itu mematikan ponselnya dan kembali merenungi nasib dirinya. Tanpa sadar tiupan angin telah mengantar jiwanya terbang pada selaksa awan diufuk timur cakrawala. Hingga Purnama memanggilnya tepat diantara dua menara jembatan Ampera. Cahaya kuningnya memantulkan tekstur keperakan gelombang di hamparan sungai Musi. Kerlap-kerlip lampu Kapal bagai Mutiara yang baru saja ditempa. Perempuan itu masih tertegun kaku. Memandangi riak gelombang sungai. Bukan untuk menunggu. Tapi entahlah terasa berat kakinya untuk melangkah.&lt;br /&gt;Seketika ia tergopoh, seolah baru sadar dari pengaruh sebuah gendam. Biasanya saat seperti itu ia sedang menemani putrinya belajar. Atau makan malam bersama keluarga. Kali ini ia malah pergi sendiri. Tanpa tujuan yang pasti. Menjelang Isya’ ia baru menginjakkan kaki dihalaman rumah. Dikawasan Maysabara. Sekip pangkal. Tidak seperti biasa, diteras rumah terlihat tiga atau empat orang pemuda yang sedang duduk sambil memegang buku Yasiin. Sementara diruang tamu telah dipenuhi oleh tetangga dan kerabat kakak. Perempuan itu hampir tidak mengenali jasad gadis kecil berselimut kafan dihadapannya. Ia segera mendekat dan mendekapnya erat-erat setelah tahu dia adalah putrinya. Sambil menangis sejadinya, iapun kehabisan kata. Air matanya memang tidak pernah kering disepanjang kehidupan. Secuil harapan itu ada pada putri satu-satunya. Iapun harus meninggal tersengat listrik saat sedang asyik bermain play station. Tanpa disadari kabel stiknya ada yang terkelupas entah digigit tikus atau memang sudah usang.&lt;br /&gt;Lengkap sudah penderitaannya. Pandangannya selalu hitam pekat tanpa ada celah cahaya yang menerawang dijalan hidup baginya. Beban itu terasa semakin berat seakan tidak sanggup lagi untuk dipikulnya. Menjelang subuh. Saat ia merasa begitu dekat dengan Tuhan. Perempuan itu tersungkur dengan mulut berbusa dan mata melotot. Sementara ditangannya menggenggam empat keping obat sakit kepala. Dia tidak sanggup lagi menahan sakit. Dengan tenang ia bermaksud mengakhiri deritanya itu.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4683969230623021230-1110145619550368071?l=sekamart.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4683969230623021230/posts/default/1110145619550368071'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4683969230623021230/posts/default/1110145619550368071'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sekamart.blogspot.com/2008/05/seorang-perempuan-yang-menderita.html' title='Seorang perempuan yang menderita'/><author><name>Sekam Art</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03351574825352934113</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://bp3.blogger.com/_PVt9-EJCYe0/R5HysCyc9iI/AAAAAAAAAAg/qOywEKwt6uU/S220/Sunset.bmp'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4683969230623021230.post-7125560762761627393</id><published>2008-05-22T17:22:00.001+07:00</published><updated>2008-05-22T17:25:39.664+07:00</updated><title type='text'>Sajak untuk Yulianti</title><content type='html'>Mesti aku telah kalah dalam perkelahian waktu.&lt;br /&gt;Dan harus merelakan putusan takdir&lt;br /&gt;Melumat impian indah bersamamu&lt;br /&gt;Cita-cita besar itu kini menjadi kenangan.&lt;br /&gt;Saat kejujuran tidak lagi memiliki tarif.&lt;br /&gt;Mencekik kerongkongan&lt;br /&gt;Membakar nadi.&lt;br /&gt;Penghianatanmu.&lt;br /&gt;Sungguh&lt;br /&gt;Telah menggiring langkahku pergi&lt;br /&gt;Meninggalkan jejak-jejak luka&lt;br /&gt;Yang kau sayat  dengan manis bibirmu itu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Biarkan aku sendiri menapaki garis tangan&lt;br /&gt;Terjal dan berliku.&lt;br /&gt;Akan kubawa kemana aku pergi.&lt;br /&gt;Cintamu dulu,&lt;br /&gt;Dalam sketsa doa dan zikir&lt;br /&gt;Dalam genangan air mata  yang membanjir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15 Mei 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4683969230623021230-7125560762761627393?l=sekamart.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4683969230623021230/posts/default/7125560762761627393'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4683969230623021230/posts/default/7125560762761627393'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sekamart.blogspot.com/2008/05/sajak-untuk-yulianti.html' title='Sajak untuk Yulianti'/><author><name>Sekam Art</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03351574825352934113</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://bp3.blogger.com/_PVt9-EJCYe0/R5HysCyc9iI/AAAAAAAAAAg/qOywEKwt6uU/S220/Sunset.bmp'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4683969230623021230.post-4004064507426387087</id><published>2008-02-22T17:56:00.000+07:00</published><updated>2008-02-22T17:58:09.031+07:00</updated><title type='text'>Ijinkan Aku Bicara</title><content type='html'>Ijinkan Aku Bicara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidakkah cukup?.&lt;br /&gt;Setiap kata yang tertumpah sebagai berkah&lt;br /&gt;Namun masih saja kau anggap itu serapah.&lt;br /&gt;Kawan..!. aku memang bukan siapa-siapa?&lt;br /&gt;Bahkan nasihatkupun tak berharga&lt;br /&gt;Tapi kenanglah dibawah nauangan Rembulan.&lt;br /&gt;Terbetik cahaya.&lt;br /&gt;Dulu..&lt;br /&gt;Sempat kita mandi bersama.&lt;br /&gt;Kini aku takkan berkata-kata lagi.&lt;br /&gt;Acap kali dadamu yang membara&lt;br /&gt;mengapa mesti aku yang terbakar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biar hening malam terpecah Matahari&lt;br /&gt;Aku terlanjur begini.&lt;br /&gt;Goresan luka yang kau sayat dengan lidah itu.&lt;br /&gt;Tidak sepedih tertikam Belati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak setegar batu karang hatiku&lt;br /&gt;Tidak cukup luas dunia untukku berlari&lt;br /&gt;Tidak pula terasa indah istana yang megah&lt;br /&gt;Tanpamu sahabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antoni Farhan, 20 Desember 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4683969230623021230-4004064507426387087?l=sekamart.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4683969230623021230/posts/default/4004064507426387087'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4683969230623021230/posts/default/4004064507426387087'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sekamart.blogspot.com/2008/02/ijinkan-aku-bicara.html' title='Ijinkan Aku Bicara'/><author><name>Sekam Art</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03351574825352934113</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://bp3.blogger.com/_PVt9-EJCYe0/R5HysCyc9iI/AAAAAAAAAAg/qOywEKwt6uU/S220/Sunset.bmp'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4683969230623021230.post-8104362116737117645</id><published>2008-02-09T20:55:00.000+07:00</published><updated>2008-02-09T20:58:51.407+07:00</updated><title type='text'>Hantu Lukisan India</title><content type='html'>Hantu Lukisan India&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Jalan Merdeka, Maret 1978&lt;br /&gt; Merah cakrawala senja memancarkan keangkuhan, meski tidak lama lagi akan hilang ditelan kepekatan malam. Laki-laki paroh baya itu tetap setia menunggu, pertaruhan dahsyat. Antara hidup dan mati belahan jiwanya. Karina. Perempuan yang telah dipersuntingnya. Selama sepuluh tahun pernikahannya itu ia baru akan di karuniai seorang anak, calon bapak yang diketahui bernama Krishna tersebut harus sabar berjam - jam mondar-mandir di depan pintu kamar bedah Rumah sakit Dr.A.K Gani Palembang.&lt;br /&gt;  “Pak Krishna,…!” dokter spesial kandungan memanggil Krisna, setelah membuka pintu ruang  bedah.&lt;br /&gt; “Iya dok,….”&lt;br /&gt; “Selamat Anda menjadi bapak, anak bapak perempuan cantik seperti ibunya,…”&lt;br /&gt; “Dok,..bagaimana keadaan istri saya,…?”&lt;br /&gt; “Sebaiknya pak Krishna ikut saya keruangan, ada yang ingin saya sampaikan mengenai istri bapak….?”. Dr. Djamal mempersilakan Krishna ikut ke ruang kerjanya. Ada sesuatu yang akan disampaikan oleh dokter itu. Namun mulutnya seperti telah terkunci. Ia harus mengajak Krish ke ruang pribadinya. Sebagai dokter yang profesional tentunya ia akan melakukan pekerjaannya sesuai prosedur. Termasuk hal terkecil sekalipun. Sementara Krishna begitu penasaran, gerangan apa yang hendak disampaikan oleh dokter. &lt;br /&gt; “Biaya operasi?, masih ada uang penjualan tiket beberapa hari ini” pikirnya. Laki-laki itu tampak gugup dan tegang.&lt;br /&gt; “Silakan duduk dulu pak Krishna,..” Agak tegang.&lt;br /&gt; “Tapi dok,..bagaimana keadaan istri saya,…?. Dokter meletakkan stetoscop di sudut kanan meja,&lt;br /&gt; “Maaf, terjadi pendarahan yang sangat hebat. Beberapa saat sesudah masuk kamar operasi istri anda menghembuskan nafas terakhir. Untuk menyelamatkan&lt;br /&gt;bayinya, kami harus melakukan bedah caisar.”&lt;br /&gt; “Apa Dok.. Tidak…!!..”    &lt;br /&gt; “Tenang, pak Krishna..!” Dokter Djamal berusaha menenangkan pasiennya yang sedang kalap. Lelaki itu seketika menghempaskan tangannya diatas meja. &lt;br /&gt; “Bagaimana saya bisa tenang dok,..”Krisna berlari menuju kamar bedah, dengan perasaan yang kalut. Setibanya, dua orang petugas jaga hendak membawa jasad istrinya yang terbaring berselimut kain putih diatas brankar. Mendorongnya menuju ke kamar jenazah.&lt;br /&gt;  “Rina…Rina…!! Jangan tinggalkan aku. Rina,..” setelah membuka kain putih yang menyelimuti jasad istrinya Krishna segera memeluknya erat-erat. Sementara kedua perawat piket tidak bisa berbuat apa-apa. Selain larut bersama duka yang menyelimuti Krishna. Meski bukan kali pertamanya. Mereka benar-benar terharu, pada sosok suami penuh mesra itu.&lt;br /&gt; Krisna masih memeluk erat, dadanya terasa begitu sesak, menahan kepiluan. Dan  air mata yang tertumpah membasahi pipi jenazah, ia sadar tidak akan dapat menghidupkan kembali istrinya. Ketidak siapan untuk di tinggalkan orang yang paling dicintai dalam sejarah hidupnya. Menjadikkan mata setajam paruh elang itupun sembab, cengeng. Melemah seperti Sapi dalam pasungan. Tatapan kosong pada wajah pucat pasi itu mengembalikan ingatan pada ribuan kisah masa silam, kemesraan, keromantisan yang kini tingal kenangan. Terkadang perkelahian kecil, rasa cemburu, cita-cita harapan dan asa menjadi satu, berkecamuk memenuhi pikiran bawah sadarnya.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt; Pemakaman Kamboja. Pagi itu tidak terlalu ramai, hanya di hadiri beberapa tetangga dekat dan sebagian karyawan bioskop Garuda. Sebagai pemilik bioskop Krishna sengaja tidak merekrut karyawan dalam jumlah banyak. Selain menghemat pengeluaran perusahaan. Dunia perfilman memang masih sepi. Padahal Film yang disodorkan bertema percintaan. &lt;br /&gt; Sehingga yang bisa hadir mengantar almarhum istrinya ke peristirahatan terakhir hanya pegawai yang off saja. Sisanya masih harus menyiapkan film-film India yang akan diputar. Perlu di ketahui Krisna adalah anak kedua dari sembilan bersaudara. Ayahnya berasal dari India. Ia pindah ke Palembang sebelum kemerdekaan Republik Indonesia. Ikut bekerja di sebuah toko kain, yang kebetulan waktu itu majikannya pindah kesana. Bertemu dengan seorang perempuan yang juga berasal dari India, namun keluarga sang gadis sudah lebih dahulu pindah ke Bengkulu. Suatu hari ia diperintah majikannya mengantar pesanan kedaerah itu. Hingga akhirnya cintapun bersemi disana.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;  Kelurahan Bukit Kecil, September 2003&lt;br /&gt; Dua puluh lima tahun berlalu begitu cepat, secepat detik menuju menit-menit yang terus merangkai waktu. Di kelurahan Bukit kecil, satu keluarga sedang sibuk mengemas barang-barang  Mereka adalah keluarga pak Romli yang sebentar lagi pindah rumah di jalan Sukabangun, dua kilometer sebelum tempat pembuangan akhir (TPA). Pak Romli adalah sosok ayah yang tegas dan berwibawa namun sifat humornya tetap melekat. Meski sudah hampir setahun pensiun dari Polsek Ilir Barat I, beliau tetap lincah dan gesit beraktifitas diluar rumah. Bisnis, apapun yang bisa dijadikan uang. Asalkan halal dan tidak mengganggu orang lain. Untuk menghidupi kelima anaknya, masing- masing Heri, Nurul, Mus Mulyadi, Renni dan si bungsu Novi Efrianty. Kebutuhan mereka semakin meningkat, untungnya Heri dan Nurul sudah bisa mandiri. Setelah menikah mereka mengontrak rumah sendiri. Sementara Mus Mulyadi tetap asyik dengan kegiatannya, reparasi elektronik. Kini cita-cita pak Romli adalah mengkuliahkan kedua putrinya sampai selesai. Ibu Nani  sebagai seorang istri tidak bisa berbuat banyak, tugas di rumah sudah melelahkan fisiknya, apalagi usianya semakin senja. Semakin lemah tak berdaya.. Tapi ia tidak pernah berkeluh kesah, selalu setia menemani dan berdoa akan kebaikan keluarganya.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt; Gadis itu terus menari, berputar-putar melakukan ritual yang tidak di mengerti setiap mata memandangnya.  Doa pujian dalam bahasa Pali mengalir dari mulutnya. Lantunan ayat-ayat Al Quran™  dibarengi gerakan shalat namun tidak beraturan itu juga dilakukan. Saat senja menjelang. Orang-orang keheranan melihat tingkah lakunya, tidak sedikit yang mulai mengejek dan mengucilkan. Lina, gadis manis putri bungsu dari seorang sopir angkot Pakjo-Ampera. Setiap diatas jam empat sore penyakit aneh yang dideritanya itu selalu kambuh. Menari ala India di halaman rumah. Dan juga shalat di tengah lapangan tidak jauh dari halaman rumah bedeng yang sudah hampir dua tahun ini keluarganya tingal disana. Tarian itu bukanlah tarian seorang Lina yang selama ini dikenal sebagai remaja putri yang lembut dan baik hati. Tapi sosok perempuan yang sangat sadis. Wajahnya menyeramkan, dengan mata menghitam dan rambut acak-acakkan. Lina telah berubah, kini tidak selayaknya lagi ia disebut manusia, apalagi wajah cantiknya sudah sirna menjadi sebidang bayangan yang teramat menakutkan. Takut. Siapapun yang melihatnya. Ia adalah hantu, yang telah menyatu dengan raga Lina untuk sekian lama. Keluarganya sudah berusaha mengobati. Hasilnya masih saja nol besar. Seperti dunia ini tidak lagi memiliki celah, begitu sempitkah?. Mungkin karena ayah ibunya sudah patah arang. Mereka putus asa, akan kemana lagi mengajak Lina berobat. Rumah sakit jiwa, paranormal, tabib, dan yang terakhir adalah seorang kyai ternama di Muara Ogan. Dan hasilnya, benar-benar membuat setiap orang tercengang. Rina dirasuki oleh Hantu yang selama ini bersemayam dilukisan seorang perempuan dari India, lukisan itu terpajang di balik pintu dapur rumah kontrakkanya. Sayangnya keberadaan lukisan itu kini sudah tidak jelas. Raib entah dimana rimbanya. &lt;br /&gt; Hingga suatu ketika karena begitu sayang Badri pada Lina, ia merelakan tangannya penuh luka. Lina menggigitnya dengan buas sembari menghisap darahnya sebelum akhirnya Lina terkulai dan tertidur. Pulas. Daripada melukai dan menakuti orang  lain lebih baik dirinya yang harus kesakitan. Sebagai kakak sulung ia turut bertanggung jawab moral atas apa yang menimpa adik perempuan satu-satunya itu. Dan juga menjadi salah satu bentuk hukuman yang akan menebus kesalahannya. Badrilah yang telah membuang lukisan itu ke kotak sampah di depan halaman. Ia takut. Karena hal ini dulu pernah menimpa Seno kakak kedua Lina. Badri mengajak Seno berobat ke salah seorang kiyai didaerah bukit kecil. Namun sayang kiyai itu sudah berpulang tidak lama setelah mengobati Seno. Tidak ingin hal ini menimpa yang lain Badri bermaksud membuang lukisan itu. Kondisi lukisan memang sudah tidak utuh lagi, Seno telah mencoret-coret selembar kanvas itu dengan arang sebelum akhirnya Badri membuangnya kekotak sampah disudut halaman. Entahlah pemulung dari mana yang menemukan lukisan itu. Apaboleh buat semua sudah terjadi, tidak mungkin lukisan itu akan dicari menelusuri TPA. Dengan gunungan sampah berpuluh-puluh hektar luasnya.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;  “Mama siapkan baju!, aku mau pulang ke India” Lina meminta pada bundanya agar mengemas baju, ia ingin pulang ke India. Kepanikan seluruh anggota keluarga bertambah ketika terucap kata hendak pulang ke India. Bahkan Lina tidak mau masuk rumah. Ia pilih istirahat di teras rumah tetangga, dari satu rumah kerumah lainnya. Sembari menyanyi dan menarikan lagu-lagu India.&lt;br /&gt; “Bukan, kamu ini sebenarnya siapa,..?” tanya sang ibu.&lt;br /&gt; “Tidak penting, kamu tanyakan namaku..?&lt;br /&gt; “Kenapa mau pulang India.?”&lt;br /&gt; “Aku memang berasal dari India, karena ada yang telah mengusik ketenanganku. Aku merasa tidak nyaman lagi disini”,&lt;br /&gt; “Siapa yang mengganggu ketenanganmu..?”&lt;br /&gt;  “putra sulungmu itu dia membiarkan aku dalam keadaan kotor, bau, panas dan dingin menyelimutiku.. Tidak ada lagi yang peduli padaku. Padahal dulu aku tidak pernah seperti ini. Selalu damai, walau harus menggembara jauh dari negeriku&lt;br /&gt; “Sekarang apa yang kau mau..??.&lt;br /&gt; “kembalikan aku keasalku..!”&lt;br /&gt; “Iya tapi di mana.?? &lt;br /&gt; “Tempatku adalah lukisan perempuan yang dulu tergantung di pintu dapur rumahmu, aku tidak tau. Yang kurasa saat ini aku kotor, bau dan panas!!. Aku sudah tidak tahan&lt;br /&gt; lagi”&lt;br /&gt; “pergilah dari raga Lina, jangan kau siksa&lt;br /&gt; dia begitu,.?&lt;br /&gt; “apa kau menyuruhku pergi,.??. Tidak aku takkan pergi, sebelum kau kembalikan lukisanku itu kesini. Ini adalah hukuman bagi orang-orang yang telah semena- mena terhadapku,…”&lt;br /&gt; “tapi kan Lina tidak tau menau,.?..”&lt;br /&gt;  “aku tak peduli, atau sekarang kau ingin&lt;br /&gt; melihat anakmu yang cantik itu selamanya gila. Lalu&lt;br /&gt; perlahan akan mati dalam keadaan&lt;br /&gt; mengenaskan,..ha ha ha..”&lt;br /&gt; “Jangan-jangan, Kumohon jangan. Kalau kamu masih bersikeras kan kubakar dengan ayat kursyi,…”&lt;br /&gt; “Percuma, aku tidak akan takut. Dulu aku memang beragama Budha tapi sekarang aku sudah muslimah,..ha ha ha..”&lt;br /&gt; “Astaghfirullah.”. Ibu Rusmini tersadar ia baru saja mimpi, bertemu hantu itu.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt; Kelurahan Bukit Kecil, Januari 1999&lt;br /&gt;Mus Mulyadi berdiri kaku di latar belakang rumah kontrakkannya. Hari ini ia benar-benar kesal pada Mia, kekasihnya. Yang secepat kilat membatalkan pertunangan mereka. Lelaki itu telah termakan kejujurannya sendiri. Kejujuran yang terkadang harus membuat seseorang hancur. Seperti dirinya. Ia sadar, tidak ingin membuat petaka suatu hari nanti. Bila setelah mempersunting Mia. Istrinya tahu akan kekurangan fisiknya. Lebih baik diungkapkan saja. Namun ia tidak tahu, bila sesudahnya harus menelan pil pahit. Tentang (maaf) buah zakarnya yang besar sebelah. Orang-orang disana menyebutnya Kondoran. Karena keterusterangannya itu membuat keluarga Mia membatalkan pernikahan mereka. Dengan alasan takut tidak mampu memberi keturunan.&lt;br /&gt; Entah. Sesuatu apa yang menggiring Mus masuk ke rumah tua disudut halaman belakang rumahnya. Sebagian atap bangunan semi permanen itu tampak dijalari rumput dan disekelilingnya ditumbuhi semak. Mungkin karena daun pintu yang sedikit menganga yang memancing rasa penasaran. Tentang seluk beluk rumah itu. Ia sudah  lupa sejak kapan rumah itu kosong. Sepengetahuannya sewaktu ia masih anak-anak rumah itu sudah tidak berpenghuni. Hanya sesekali waktu saja tuan rumah mengecek keberadaannya. Setelah itu menghilang. Tidak jelas dimana keberadaannya.&lt;br /&gt; Debu-debu telah menumpuk. Pengap. Atap rumah itu tidak utuh lagi. Sehingga terlihat becek dengan sisa-sisa air sehabis hujan . Mus memeriksa setiap ruangan. Ia tidak mendapati apa-apa. Selain tas dalam ukuran besar tepat disudut ruangan dapur. Ia penasaran. Mendekati benda yang terbungkus debu dan sarang laba-laba. Oh. Tas itu tampaknya sudak sobek. Memang disengaja ditinggalkan oleh pemiliknya. Mungkin. Namun Mus masih penasaran dengan isinya. Dibongkarnya dalam tas itu. Ia menemukan beberapa piringan kaset film India. Satu keping lukisan. Ditariknya keluar, tekstur lukisan kanvas abstrak naturalisme dengan objek seorang gadis. Matanya yang lebar dan senyum khasnya dapat dikenali oleh Mus. Perempuan itu juga dari india. Sebuah goresan kuas yang berkarakter. Warna hijau tua kain sari yang dikenakannya dipadu dengan latar kuning dan biru. Mus memang tidak terlalu mengerti tentang lukisan. Namun ia mengambil lukisan itu dan membersihkan sisa-sisa debu. Bingkainya telah hancur, ia masih dapat menempelkan meski hanya berupa kanvas lukisan itu dibalik pintu dapur. Setiap kali penghuni rumah keluar masuk dari kamar mandi, yang kebetulan pintunya berhadapan dengan pintu dapur. Lukisan itu seolah selalu menyapa. Imajinasi yang begitu hidup. Sorot matanya benar-benar menggoda dari lukisan perempuan India itu. &lt;br /&gt; Jalan Suka Bangun awal tahun 2008 &lt;br /&gt;Pagi masih buta. Benang putih baru saja mulai terlihat pendar. Ayam jagopun sesekali masih berkokok. Rumah pak Romli kedatangan beberapa tamu yang tidak dikenal. Mereka meminta tolong agar anak bungsunya mengobati putri mereka yang sudah beberapa tahun sakit. Namun sayang saat Evy hendak melihat. Lina lebih dahulu meninggal.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4683969230623021230-8104362116737117645?l=sekamart.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4683969230623021230/posts/default/8104362116737117645'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4683969230623021230/posts/default/8104362116737117645'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sekamart.blogspot.com/2008/02/hantu-lukisan-india.html' title='Hantu Lukisan India'/><author><name>Sekam Art</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03351574825352934113</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://bp3.blogger.com/_PVt9-EJCYe0/R5HysCyc9iI/AAAAAAAAAAg/qOywEKwt6uU/S220/Sunset.bmp'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4683969230623021230.post-4133037655522858643</id><published>2008-01-27T19:37:00.000+07:00</published><updated>2008-01-27T19:44:46.859+07:00</updated><title type='text'>Nasib kupu-kupu</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Nasib kupu-kupu &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;Di pukul gelombang, dihempas menjadi arang. &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Dari titik nadir terakhir. &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Tertinggal dalam bentangan layar. &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Tenggelam. &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Seribu pukat Harimau. Mati menggigit malam. &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Mencari jasad di serpihan badai. &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Masih ada tangga  menuju sebuah kamar yang belum terjamah. &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;barang kali ada birahi yang berdenyut. Memaksa hasrat. &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Lama tersembunyi di balik bisingnya mesin kapal. &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Dan puluhan benua  telah disinggahi. &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Kupu-kupu malam terkulai, &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;menghisap amoniak yang tertumpah dibibir pantai. &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Hingga matahari kembali dipelukkan sang Bunda. &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Ketika sadar badai salju megubur mimpinya.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4683969230623021230-4133037655522858643?l=sekamart.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4683969230623021230/posts/default/4133037655522858643'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4683969230623021230/posts/default/4133037655522858643'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sekamart.blogspot.com/2008/01/nasib-kupu-kupu.html' title='Nasib kupu-kupu'/><author><name>Sekam Art</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03351574825352934113</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://bp3.blogger.com/_PVt9-EJCYe0/R5HysCyc9iI/AAAAAAAAAAg/qOywEKwt6uU/S220/Sunset.bmp'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4683969230623021230.post-3674179984846289789</id><published>2008-01-24T19:45:00.000+07:00</published><updated>2008-01-24T20:06:04.882+07:00</updated><title type='text'>Kenangan</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Pergi&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Di balik lima jemari tanganmu,&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;kau genggam hatiku,...&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;terlampau erat rasanya.&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Hingga aku tak dapat memberikan &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;tempat bernaung,...&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;bagi bidadari yang datang &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Menjemputku&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Pagi tadi,..&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Tetes air mata,&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Menyiram pusaramu&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;diantara&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Reruntuhan Kamboja.&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Kukirim doa&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Tanjung Raja 19 Juni 2007&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Perjalanan Malam&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Putih,&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Merah,&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Kuning, Dalam Gelap.&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Malam menguliti takdirnya,&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Atas perjalanannya, &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;mengitari cakrawala.&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Jenuh memang,....&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Begitulah hidup&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Mengikuti titah – Nya, Keinginan adalah harapan &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Namun Tuhanlah yang menentukan&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Tanjung Raja, 06 Juni 2007&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4683969230623021230-3674179984846289789?l=sekamart.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sekamart.blogspot.com/feeds/3674179984846289789/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4683969230623021230&amp;postID=3674179984846289789' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4683969230623021230/posts/default/3674179984846289789'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4683969230623021230/posts/default/3674179984846289789'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sekamart.blogspot.com/2008/01/pergi-di-balik-lima-jemari-tanganmu-kau.html' title='Kenangan'/><author><name>Sekam Art</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03351574825352934113</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://bp3.blogger.com/_PVt9-EJCYe0/R5HysCyc9iI/AAAAAAAAAAg/qOywEKwt6uU/S220/Sunset.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4683969230623021230.post-4931585770354073719</id><published>2008-01-24T19:16:00.000+07:00</published><updated>2008-01-24T19:44:44.230+07:00</updated><title type='text'>Puisi ( Nostalgia di bukit Menoreh )</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Lelah&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Senja telah menutup rapat matanya&lt;br /&gt;mengukir mimpi&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;berselimut kabut,..&lt;br /&gt;Temaram lampu di kaki gunung&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Mengantarku pulang.&lt;br /&gt;Dari perjalanan melelahkan.&lt;br /&gt;Tiga hari lamanya, aku mendaki.&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Demi sekuntum bunga&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Bukit Menoreh,2000&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;-------------------------------------------&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;Antara Sawangan – Blabak&lt;/strong&gt;,&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;em&gt;(Ku tuliskan kisah ini&lt;/em&gt;)&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;Batu mengalir bergemuruh,&lt;br /&gt;disepanjang sungai.&lt;br /&gt;kita telah berjalan sejauh itu,&lt;br /&gt;kaki telanjangku tak mampu lagi, menahan tajamnya batu.&lt;br /&gt;petir menyambar, hujan - panas menghadang&lt;br /&gt;Kita tetap bersama,&lt;br /&gt;Meski tertatih, seperti habis seluruh tenaga,&lt;br /&gt;engkau masih bisa tersenyum.&lt;br /&gt;Kini malam telah menenggelamkan kita,&lt;br /&gt;Sementara bekal kita telah habis,&lt;br /&gt;sebelum setengah perjalanan tadi.&lt;br /&gt;Kawan,………….&lt;br /&gt;Peganglah tanganku,..Ini sebagai bukti telah terbinanya ukhuwah.&lt;br /&gt;ketika tiba di persimpangan&lt;br /&gt;Panjatkanlah doa, agar esok kita terjumpa&lt;br /&gt;Membangun generasi, penuh peduli.&lt;br /&gt;Karena Kini masa yang kita rasa,&lt;br /&gt;sungguh sangat jauh dari nilai etika.&lt;br /&gt;Doa dan air mata saja tidaklah cukup untuk menghentikannya.&lt;br /&gt;Darah yang telah mengaliri bumi jangan biarkan sia-sia&lt;br /&gt;Perjalanan kita masih panjang,&lt;br /&gt;Uh betapa letih..&lt;br /&gt;berikan aku setetes embun penghilang dahaga&lt;br /&gt;sebagai penyemangat&lt;br /&gt;pekikkan kembali takbir&lt;br /&gt;Allahu akbar…!! &lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;(&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;strong&gt; Magelang, 1999 )&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4683969230623021230-4931585770354073719?l=sekamart.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sekamart.blogspot.com/feeds/4931585770354073719/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4683969230623021230&amp;postID=4931585770354073719' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4683969230623021230/posts/default/4931585770354073719'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4683969230623021230/posts/default/4931585770354073719'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sekamart.blogspot.com/2008/01/puisi-nostalgia-di-bukit-menoreh.html' title='Puisi ( Nostalgia di bukit Menoreh )'/><author><name>Sekam Art</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03351574825352934113</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://bp3.blogger.com/_PVt9-EJCYe0/R5HysCyc9iI/AAAAAAAAAAg/qOywEKwt6uU/S220/Sunset.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4683969230623021230.post-3487812147197616751</id><published>2008-01-21T20:40:00.000+07:00</published><updated>2008-01-21T20:42:49.545+07:00</updated><title type='text'>Berubahlah (Nasihat bagi yang hampir berputus asa)</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Gagal lagi.&lt;br /&gt;Mungkin ungkapan seperti itu yang biasa di ucapkan oleh seseorang yang hampir putus asa. Setelah sederetan usaha yang telah dilakoni tidak menuai hasil. Perencanaan-perencanaannya kini menjadi wacana belaka. Dan dengan berat hati serta pikiran yang kacau semua ditutup menjadi file yang berantakan. Tidak sedikit bahkan ada yang harus dimusnahkan di kotak sampah. Ia lupa akan harapan dan cita-cita. Apalagi tentang idealisme. Apakah setiap kali gagal harus seperti itu. Tentunya tidak. Kegagalan adalah proses. Yang akan memperkebal diri, ialah imun yang sangat manjur. Bila kita mampu mengelola kegagalan itu. Gagal, bukan berarti seluruh harapan kita punah. Demikian. Gagal kenyataannya langit masih utuh. Sementara kita berlalu dengan putaran waktu yang masih sama. Berhentilah bersedih, apapun yang terbentang dihadapan masih bisa kita lalui. Walaupun itu ranjau dan duri. Ingat kita bukan sedang bunuh diri. Untuk apa memendam potensi yang telah Tuhan berikan. Bangit dan bungkamlah seluruh keburukkan. Menyongsong Matahari dengan cahayanya diwaktu pagi. Bumimu indah, langitpun cerah. Dan satu lagi kita semua masih punya seribu cita-cita, esok atau lusa kita kan memetiknya..&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4683969230623021230-3487812147197616751?l=sekamart.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sekamart.blogspot.com/feeds/3487812147197616751/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4683969230623021230&amp;postID=3487812147197616751' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4683969230623021230/posts/default/3487812147197616751'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4683969230623021230/posts/default/3487812147197616751'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sekamart.blogspot.com/2008/01/berubahlah-nasihat-bagi-yang-hampir.html' title='Berubahlah (Nasihat bagi yang hampir berputus asa)'/><author><name>Sekam Art</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03351574825352934113</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://bp3.blogger.com/_PVt9-EJCYe0/R5HysCyc9iI/AAAAAAAAAAg/qOywEKwt6uU/S220/Sunset.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4683969230623021230.post-4214031707958120039</id><published>2008-01-20T17:26:00.000+07:00</published><updated>2008-01-20T17:41:32.640+07:00</updated><title type='text'>Cerpen</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;Saat Rembulan tak lagi bercahaya&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Oleh: Antoni Farhan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Kau tidak sabar. Kau kalah dalam perkelahian panjang melawan dirimu...” lelaki berjubah itu tiba-tiba muncul di depanku. Memberikan vonisnya. Aku kalah. Tengah malam tak satupun pelita yang menyala. Minyak tanah langka. Rekening listrik terlambat bayar dua bulan lebih, petugas telah menyegelnya. Angin bertiup menggerakkan daun pintu dan jendela. Gesekannya melantunkan alunan simfoni yang tidak nyaman. Pertanda rumah kami sudah reot.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Tapi sudah bertahun – tahun lamanya aku menunggu. Mimpi demi mimpi terus kurangkai, tidak pernah dapat kuwujudkan menjadi kenyataan yang begitu indah walau sebentar saja. Aku lelah... Aku lelah….&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Anak muda..Engkau telah salah menafsirkan kitab suci,….!!"&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Siapa kau,..!. Peduli apa dengan kitab suci..??”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Aku adalah jiwamu yang sebenarnya…”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Aahh…Sudahlah aku semakin tidak mengerti,.. bukankah kitab suci itu urusan para nabi..?”….&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“ ha…ha…,!!. Tidak,..!!. Setiap orang butuh kitab suci untuk ketenteraman hidupnya. Tanpa kecuali siapapun dia. Namun sayangnya manusia lebih mengikuti hawa nafsunya dalam menterjemahkan kitab suci. Dan juga kau,….!!!”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Ya,..aku memang dulu sabar. Namun karena kesabaran itu orang-orang terus menginjak-injak kepalaku. Sudah berapa perempuan yang mengusirku dari taman hatinya, hanya karena aku miskin. Itu sudah cukup bagiku, cukup menyakitkan. Dan telah menguras kesabaran. Kini aku sadar aku bukanlah nabi. Dan juga tidak sedang berada di jamannya. Hidup tidak hanya cukup untuk makan. Bahkan kini aku terlalu jauh tertinggal. Masih banyak yang harus kukejar untuk membayar penghinaan yang teramat sangat menyakitkan ini. Tekadku sudah bulat, mungkin aku lebih tahan mati dari pada hidup selalu terpinggirkan begini. Ketika sebuah kejujuran tidak lagi dihargai. Perasaan cinta ibarat panggung sandiwara. Menghasilkan episode – episode cerita penuh dengan kepalsuan…”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Sabar memang selalu begitu. Ibarat air yang terus mengalir dari tempat yang tinggi ke sisi yang lebih rendah. Adakalanya sesuatu harus di lakukan cepat namun terkadang juga harus lambat. Sebagian orang menganggap sabar itu pelan-pelan. Alon-alon waton kelakon, apakah ketika melihat rumah tetangga terbakar, saat orang-orang bergegas menyelamatkan barang-barangnya engkau akan tetap santai. Sabar,..!. Jangankan seisi rumah bulu hidungmupun akan habis terbakar. Atau pada peristiwa lain, saat anggota keluargamu sedang sakit dini hari, kalau tidak segera diobati tentunya akan membahayakannya. Masihkah engkau akan berkata sabar, menunggu besok. Tentunya keluargamu itu akan lebih cepat mati. Demikian juga ketika dalam sesulit apapun keadaanmu harus tetap sabar. Bisa jadi itu ujian bagimu. Seperti yang telah dijalani oleh para nabi. Itu berlaku bagi setiap manusia, bukan hanya nabi. Itulah gunanya Tuhan menurunkan kitab suci. Sebagai pedoman, yang akan menjaga kesucian naluri. Pada dasarnya seluruh manusia baik, karena nafsu jahatnya yang telah menggelincirkan mereka. Anak muda,..!!. Betapa Tuhan sangat menyayangimu, namun sayang kau tidak tahu hal itu…”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Tungguuu,…!!!” laki-laki itu menghilang begitu saja, tanpa terdengar derit daun pintu bambu rumahku. Ia datang tak diundang dan pergi menghilang. Aku masih penasaran. Kukejar ia hingga ujung gang. Tidak ada siapa-siapa.Aku berdiri tertegun diam seribu basa. Penasaran. Siapa lelaki parobaya yang menghampiri aku tadi,..?. Kata-katanya memenuhi rongga kepala, menyumbat aliran darah. Menjadikan aku pusing sembilan keliling.Masih kugenggam impian dalam lamunan panjang. Perubahan yang tidak pernah aku rasa, dan hampir saja aku tidak menyadarinya . Walau telah terpendam lama bersama putaran waktu. Sebenarnya diriku tidak pernah berubah, sama seperti perubahan itu sendiri yang tidak pernah berubah. Namun keegoisan dan nafsu yang telah mengalahkan naluri. Kekejaman yang telah menjadi raja, lebih buas dari buaya dan singa lapar sekalipun. Gelap mata dan lupa daratan saat kita kehilangan kendali diri. Katanya.Tiba-tiba dari ujung jalan terdengar suara gaduh. Aku semakin pusing dan tidak mengerti. Manusia beramai-ramai telanjang bulat, berdansa dan menari tanpa memiliki rasa malu lagi. Ritual apa ini…? Sesudahnya begitu mudah mereka memetik bulan di langit lalu memakannya. Rembulan kini menjadi seperti kepingan – kepingan terigu. Hancur luluh dalam mulut-mulut buas itu. Pertanda apa ini,..? Apakah juga orang-orang Amerika yang setahun lalu sudah mulai mengkaplingkan tanah di bulan. Tidakk,…aku semakin takut. Tiada kata lain selain berlari dan berlari.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Baru beberapa langkah aku berlari sosok perempuan itu muncul. Aku hampir saja tidak mengenalinya. Karena memang belum pernah kulihat keadaan seperti ini sebelumnya. Ya. Saat ini perempuan itu telanjang bulat tanpa segaris benangpun. Bersama beberapa perempuan lainnya. Kehadirannya Paling tidak telah membuat rasa takutku berkurang. Kulitnya putih bersih, tubuhnya yang sintal dan…..? Tanpa menggodapun aku pasti kan terggoda. Namanya Yosmanidar, aku memanggilnya Ossi perempuan dari Padang Pariaman yang pernah kukenal. Kalau saja ayahnya tidak mengusirku, mungkin kami sudah hidup bersama. Meski ibunya terlalu baik padaku, namun apa daya sebagai kepala keluarga sang ayah tidak merestui hubungan kami. Aku yang tidak punya masa depan. Yang hanya berprofesi sebagai pelukis lokal. Persetan dengan masa depan. Awalnya aku ngotot ingin menpersuntingnya. Sang ayah tetap saja ketus, tak pernah peduli. Walau akhirnya aku harus dibeli oleh mereka. Tetap sama saja aku tidak punya harga diri.&lt;br /&gt;Ossi mendekatiku dengan lenguhan napas memburu. Nafsu. Ia menggandengku, namun aku segera menepis. Dengan sisa kekuatan aku bangkit. Mengingat penghinaan yang telah dilakukan ayahnya, aku juga telah berjanji tidak akan kembali lagi padanya. Pantang bagiku menjilat air liur yang telah tertumpah. Hampir saja aku terbuai belaian lembut jemarinya, saat ia terus mengekplorasi tubuhku.&lt;br /&gt;“Cukup,…!! Ingat aku bukan diriku yang dulu lagi. Ossi aku sudah punya anak dan istri. Kumohon jangan Si..!!, aku masih berusaha menolak meski sebenarnya hasratku juga mulai bangkit. Tangannya terlalu piawai membakar gairah di balik sikapnya yang dingin selama ini. Aku memang tidak pernah berani untuk sekadar bercumbu dengannya. Menggandeng tangannyapun jarang sekali. Aku masih bisa menghargainya sebagai perempuan. Padahal waktu bertemu kami sangat intens, kakaknya menginventariskan aku sepeda motor untuk antar jemput Ossi ke kantornya. Bank Mega. Dan malam haripun kami sering menghabiskan waktu di luar, jalan – jalan menghilangkan penat atau hanya untuk makan sate padang.Akhirnya aku bertekuklutut pada Ossi, ikut bersama komunitasnya. Orang – orang bertelanjang ria tanpa malu. Meski aku masih punya rasa itu. Malu. Walau sedikit, namun aku tidak sanggup berbuat apa – apa. Aku telah terbius oleh indahnya gemerlap dunia. Terpasung pagutan – pagutan tangan lembut itu. Dan juga desahan nafas erotis. Akupun lupa pada prinsip dan idealisme yang kujunjung tinggi selama ini. Hingga akhirnya Ossi mengajakku pada tempat yang sangat megah. Bangunan istana seribu tingkat dengan lantai marmer dan dinding lapis emas. Di dalamnya orang – orang sedang berpesta pora. Tidak ada kasta, semua sama. Kayaraya. Meski kayaraya aku tidak bisa mengikuti cara makan mereka. Aku tetap merasa biasa. Tanpa pernah belajar menjadi orang kaya. Aku hanya orang pinggiran yang selalu terpojok di lorong – lorong kumuh. Bersama tukang becak, penjual koran dan pengemis. Itu yang dipredikatkan baik. Sebagian lagi komunitasku adalah pengedar, perampok dan tukang judi. Menjual diri sudah jadi tradisi, anak lahir tanpa ayah itu biasa.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Di depan gang ada bangunan tempat orang – orang sujud pada Tuhan. Itupun hanya sebagian orang yang melakukan. Di lain waktu, halaman bangunan itu menjadi tempat orang – orang bergoyang menggeleng – gelengkan kepala mengikuti irama house musik organ tunggal bila ada acara pesta pernikahan atau khitanan. Para ibu rumah tanggapun turut serta. kalau tidak, bisa jadi mereka tidak memiliki teman. Walau sekadar untuk ngerumpi. Pernah suatu hari salat berjamaah sambil diiringi alunan musik disco. Aneh… Untung saja imamnya tidak ikut manggut – manggut. Yang lebih kalap lagi. Saat mereka berjoget tanpa sengaja saling senggol, hal bisa memicu pertikaian. Bahkan sampai terjadi pertumpahan darah. Seorang pemuda tewas ditikam di arena organ tunggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dimana kau simpan hatimu. Dimana kau letakkan nalurimu. Aku telah memberikan nasihat untukmu. Dan kau tidak pernah peduli,….maaf kali ini aku tidak dapat menolongmu lagi..!” Ketika aku telah mabuk kepayang. Terbakar gairah mencumbu Ossi di salah satu ruang kamar lantai 125, tiba – tiba suara lelaki parobaya itu menegurku. Mengingatkan aku. Meskipun aku sadar dan mempunyai rasa takut pada Tuhan. Namun aku tidak dapat mengelak, selalu menuruti hawa nafsu.Seketika tubuhku gemetar, keringat dingin mengucur di sela – sela sejuk ruangan ber AC.Aku merasa tidak berdaya, wajahku kaku dan seluruh persendian tak dapat kugerakkan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“jangan….ku mohon jangan…!!” dua orang bertubuh kekar dan berwajah seram itu mendekat. Mencambuk dan memukuli kepalaku. Wajahku penuh darah, dan sakit yang tak dapat kutahan. Beberapa kali aku tersungkur, mereka mengangkat tubuhku dan kembali menghujani aku dengan pukulan gada.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Ini akibat kedurhakaamu selama ini. Dan ini balasan atas perbuatan tanganmu…”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Tidakk…. Aaagghhh,…”. Tanganku,..tanganku putus. Kilatan pedang itu menyambar lengan kananku.&lt;br /&gt;Aku membuka mata perlahan – lahan. Pandanganku masih belum jelas benar. Tidak dapat kukenali aku dimana sekarang. Tak satupun orang di sisiku. Menemaniku. Jam menunjukkan pukul empat, mungkin pagi karena suasana hening dan cahaya lampu menyala terang benderang. Silau. Selang oksigen masih menyambung di hidungku. Kepalaku berat dan sakit sekali, tebal balutan perban itu membungkus kepalaku. Aku tidak dapat menggerakkan tangan dan kaki. Rasanya semua telah remuk.&lt;br /&gt;Sayup – sayup adzan terdengar samar. Subuh. Tanpa sadar aku meneteskan air mata. Mengingat perjalanan hidup yang terlampau pahit. Tidak dapat kuungkapkan, sepahit apalagi rasanya. Rumah tanggaku yang selalu diliputi kabut amarah. Pertengkaran demi pertengkaran yang terjadi. Bukan kasih sayang dan saling memahami. Pemicu utamanya adalah faktor finansial. Atau mungkin dari awal Tuhan sudah tidak merestui hubungan kami.&lt;br /&gt;Aku memang menikah karena kecelakaan. Munda, perempuan yang baru kukenal. Namun cepat sekali keakraban terjalin. Dia yang bisa menerimaku. Kami sering menghabiskan waktu menonton dan jalan – jalan ke Mall. Mesti sekadar untuk cuci mata. Hingga suatu hari kami berada di Rumah Munda. Suasan sepi, orang tuanya bekerja dan adik – adiknya masih sekolah. Munda menarikku ke kamar, akhirnya terjadilah peristiwa itu. Dua bulan berlalu. Munda hamil. Kalau didiamkan saja perutnya pasti segera membesar. Kamipun menikah dengan resepsi sesederhana mungkin. Triwulan pertama aku masih tinggal dengan mertua. Namun aku segera menyeret Munda dari rumahnya. Sebelum hal terburuk menimpa. Bila perselisihan kecil terjadi aku takut akan menyudutkan posisiku di sana.&lt;br /&gt;Kami tinggal di rumah kontrakkan sangat sederhana, dengan satu kamar tidur dan ruang tamu yang sangat sempit. Tidak mengapa lagipula kami hanya tinggal berdua. Sepertinya aku kurang mujur istriku tidak pandai memasak untungnya aku kerja di warung makan. Ia tidak perlu repot memasak. Satu hal yang membuat aku tetap geleng kepala. Istriku tidak bisa menstrika, jadi setiap pagi sebelum pergi bekerja harus menyetrika pakaian dulu. Pernah Munda menstrika pakaianku. Apa jadinya patah – patah, hancur lebur baju kesayanganku.&lt;br /&gt;Hingga kelahiran Rika, kehidupan kami biasa – biasa saja. Kalau terjadi perselisihan aku berusaha menghadapi dengan kepala dingin. Mungkin bawaan si jabang bayi. Watak istriku jadi semakin keras kepala. Berubah seratus delapan puluh derajat dari awal perkenalan kami. Namun setelah Rika berumur sembilan bulan belum ada juga perubahan. Malah kian parah. Badai apa yang terjadi, suatu hari istriku menggerutu. Aku suami yang tidak pernah membuat bahagia. Dengan gaji yang tidak mencukupi kebutuhan dalam sebulan. Tidak mampu memberikan tempat tinggal yang layak. Dan… banyak sederetan alasan memojokkanku. Meski seluruh gajiku sudah kuberikan, bahkan untuk tambahan penghasilan aku nyambi jadi tukang parkir sewaktu pekerjaan dapur kosong. Masih saja belum cukup. Ya Tuhan…… Munda telah berubah. Bukan Munda yang aku kenal dulu.Suatu siang aku pulang, istriku tidak berada di rumah. Seisi rumah berantakan, di meja makan tidak ada apa – apa bahkan air minumpun. Selang beberapa saat Munda kembali di antar mobil sedan Honda City. Aku belum sempat bertanya, ia lebih dulu menyampaikan uneg – unegnya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;"Bang.. Rika ini bukan anakmu. Dia anak kak Andre. sebelum kita berhubungan dulu aku sudah pernah berhubungan dengan dia. Aku pikir dulu kamu yang bisa membahagiakan aku ternyata kamu tidak seperti yang aku duga. Maafkan aku mungkin akan kembali sama kak Andre, atau mungkin juga aku akan melacur bila itu lebih baik".&lt;br /&gt;Astghfirullah….&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Aku mengusap dada. Berusaha untuk tenang dan sabar. Namun karena aku sudah merasa benar – benar gagal sebagai diriku sendiri. Hidup yang hanya sekali ini, aku salah memilih. Amarah telah mendidih di dadaku. Aku segera keluar menuju sebuah bank swasta nasional. Menbuntuti seorang nasabah yang melakukan penarikan tunai dalam jumlah besar. Saat nasabah itu sedang menuju kendaraannya, aku menjambretnya. Tidak pernah kuketahui ternyata persaingan di jalan raya jauh lebih mengerikan dibandingkan hukum rimba sekalipun. Saat menerobos lampu merah sepeda motorku dihantam bis kota. Aku tidak tahu lagi selanjutnya apa yang terjadi.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kata tim medis aku koma selama dua hari. Saat petugas piket ruang ICU membersihkan ruangan dan membuka tirai. Pagi ini aku sadar, dari balik kaca di cakrawala timur kulihat purnama akan kembali ke singgasananya. Rembulan masih utuh. Namun tak mampu bercahaya, penglihatanku benar – benar kacau. Padahal pagi masih buta. Air mataku terus mengalir. Aku ingin sekali melihat Rembulan bercahaya lagi. Kan kujadikan sahabat, memperbaiki hidup dengan segala kekuranganku kini. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4683969230623021230-4214031707958120039?l=sekamart.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sekamart.blogspot.com/feeds/4214031707958120039/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4683969230623021230&amp;postID=4214031707958120039' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4683969230623021230/posts/default/4214031707958120039'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4683969230623021230/posts/default/4214031707958120039'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sekamart.blogspot.com/2008/01/cerpen.html' title='Cerpen'/><author><name>Sekam Art</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03351574825352934113</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://bp3.blogger.com/_PVt9-EJCYe0/R5HysCyc9iI/AAAAAAAAAAg/qOywEKwt6uU/S220/Sunset.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4683969230623021230.post-7894763726955843252</id><published>2008-01-19T21:50:00.000+07:00</published><updated>2008-01-19T21:58:38.812+07:00</updated><title type='text'>HUJAN</title><content type='html'>Hujan…..&lt;br /&gt;pagi ini mengguyur &lt;br /&gt;bumi basah&lt;br /&gt;terlalu dingin.&lt;br /&gt;Menahan  segumpal salju pada Guratan luka matahari&lt;br /&gt;Pedih mata menatap, layar pendar disekap awan putih berpanjangan.&lt;br /&gt;Kemeja merahnya basah&lt;br /&gt;Menanti malam.&lt;br /&gt;Diserambi dunia&lt;br /&gt;Kekesalan penuh hingga tak terjumpa&lt;br /&gt;Pada cinta yang hilang seribu tahun lamanya&lt;br /&gt;Bencana mengubur angan-angan,&lt;br /&gt;Berupa nafsu, berhias manisnya Fatamorgana.&lt;br /&gt;Hujan bergulir lagi,...&lt;br /&gt;seperti Kincir, mengantar air&lt;br /&gt;Namun nafsu takkan pernah tersiram.&lt;br /&gt;Padam..&lt;br /&gt;kian meradang.&lt;br /&gt;subur dan gembur.&lt;br /&gt;Hingga  napaspun terputus&lt;br /&gt;Dalam peluk Kegersangan jiwa dan kebutaan hati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Takdir.&lt;br /&gt;Seperti telah memperkosa&lt;br /&gt;Perasaan cinta&lt;br /&gt;menggebu ingin selalu bersama&lt;br /&gt;Walau harus menderita&lt;br /&gt;Hujan...&lt;br /&gt;selimutilah kami dengan curahmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Antoni Farhan, Juni 2007&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4683969230623021230-7894763726955843252?l=sekamart.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sekamart.blogspot.com/feeds/7894763726955843252/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4683969230623021230&amp;postID=7894763726955843252' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4683969230623021230/posts/default/7894763726955843252'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4683969230623021230/posts/default/7894763726955843252'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sekamart.blogspot.com/2008/01/hujan.html' title='HUJAN'/><author><name>Sekam Art</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03351574825352934113</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://bp3.blogger.com/_PVt9-EJCYe0/R5HysCyc9iI/AAAAAAAAAAg/qOywEKwt6uU/S220/Sunset.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4683969230623021230.post-2168686736869960273</id><published>2008-01-19T20:35:00.000+07:00</published><updated>2008-01-19T21:43:03.476+07:00</updated><title type='text'>Dialog dengan Bapak</title><content type='html'>Pak,..&lt;br /&gt;aku ingin sepeda motor&lt;br /&gt;Agar bisa keliling kota.&lt;br /&gt;Tidak seperti selama ini,&lt;br /&gt;Berjemur berjalan dalam panas.&lt;br /&gt;pak,..&lt;br /&gt;aku ingin mobil,...&lt;br /&gt;dengan jok duduk yang empuk,&lt;br /&gt;bosan aku bertengger di atas becak kakek...&lt;br /&gt;pak,...&lt;br /&gt;Mengapa kita selalu kalah&lt;br /&gt;Dalam perselisihan zaman&lt;br /&gt;kita tertindas sedari dulu,...&lt;br /&gt;Pak,...............&lt;br /&gt;Dunia telah menghina kita,...&lt;br /&gt;bapak dulu tidak menjadi Sarjana,...?&lt;br /&gt;Apakah kelak aku harus sedemikian Rupa..?&lt;br /&gt;Pak,.. aku bosan&lt;br /&gt;aku bosan dengan penghinaan.&lt;br /&gt;Pak,..aku ingin semuanya lebih baik,..&lt;br /&gt;Sang bapak,.. tertunduk mengusap kepala anaknya,..&lt;br /&gt;Rambutnya yang merah kepirangan.&lt;br /&gt;Menatap kedalaman matanya,..&lt;br /&gt;Dengan terpaksa Cairan kristal mengucur dari balik kelopak matanya,..&lt;br /&gt;Nak,..Ini Dunia Kita,&lt;br /&gt;Tidak siapapun yang dapat merampasnya.&lt;br /&gt;Sang bapak semakin dalam menatap kedua bola mata anaknya,..........&lt;br /&gt;Ia seperti Seniman yang sedang mengeja imajinasi&lt;br /&gt;Sembari mengusap air matanya lagi,.......&lt;br /&gt;Tidak nak, kaulah calon presiden kita,...&lt;br /&gt;Entahlah,..&lt;br /&gt;Sang bapak kini menjadi gila&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Antoni Farhan  29, Juni 2007&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4683969230623021230-2168686736869960273?l=sekamart.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sekamart.blogspot.com/feeds/2168686736869960273/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4683969230623021230&amp;postID=2168686736869960273' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4683969230623021230/posts/default/2168686736869960273'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4683969230623021230/posts/default/2168686736869960273'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sekamart.blogspot.com/2008/01/dialog-dengan-bapak.html' title='Dialog dengan Bapak'/><author><name>Sekam Art</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03351574825352934113</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://bp3.blogger.com/_PVt9-EJCYe0/R5HysCyc9iI/AAAAAAAAAAg/qOywEKwt6uU/S220/Sunset.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4683969230623021230.post-7972625230579245668</id><published>2008-01-19T18:01:00.001+07:00</published><updated>2011-07-09T16:27:24.226+07:00</updated><title type='text'>Di Masjid</title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;arial&amp;quot;;"&gt;&lt;span style="color: #000099;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;arial&amp;quot;;"&gt;&lt;span style="color: #000099;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;arial&amp;quot;;"&gt;&lt;span style="color: #000099;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Di Masjid I&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempat kami berjanji&lt;br /&gt;Menemui sang kekasih.&lt;br /&gt;Mengadu manja diatas bentangan permadani,&lt;br /&gt;terkadang&lt;br /&gt;Kemesraan mesti luluh karena emosi&lt;br /&gt;Padahal Sang kekasih&lt;br /&gt;Begitu sayang&lt;br /&gt;Begitu manja&lt;br /&gt;Begitu setia,&lt;br /&gt;Dia selalu mengerti isi hati&lt;br /&gt;Sedang kita pura-pura tidak tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Masjid II&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih ada selaksa huruf alief dan lam yang melengkung tajam&lt;br /&gt;Dilengkapi ornamen dinding warna kuning&lt;br /&gt;&amp;nbsp;Kaligrafi Sang Pencipta&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;arial&amp;quot;;"&gt;&lt;span style="color: #000099;"&gt;Melibas keangkuhan.&lt;br /&gt;Khutbah dan tarbiyah&lt;br /&gt;Dzikir dan pengampunan&lt;br /&gt;Harapan serta rasa takut&lt;br /&gt;Ribuan dosa menggunung.&lt;br /&gt;Ingat ketika jasad diusung.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;Taubat...!&lt;br /&gt;Namun ketika keluar dari Masjid&lt;br /&gt;Tuhan lalu digantung&lt;br /&gt;Hingga manusia begitu mudah memberikan fatwa tentang dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Masjid III&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mestinya tempat kita memautkan hati&lt;br /&gt;Sembari melengkingkan kidung-kidung suci.&lt;br /&gt;Pujian dan selawat rasul&lt;br /&gt;Entahlah.&lt;br /&gt;Masjid megah dibangun&lt;br /&gt;Namun tak berpenghuni&lt;br /&gt;Di Masjid kian sepi&lt;br /&gt;Padahal untuk berbakti tidak harus mengenakan Madukara&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4683969230623021230-7972625230579245668?l=sekamart.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sekamart.blogspot.com/feeds/7972625230579245668/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4683969230623021230&amp;postID=7972625230579245668' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4683969230623021230/posts/default/7972625230579245668'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4683969230623021230/posts/default/7972625230579245668'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sekamart.blogspot.com/2008/01/di-masjid.html' title='Di Masjid'/><author><name>Sekam Art</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03351574825352934113</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://bp3.blogger.com/_PVt9-EJCYe0/R5HysCyc9iI/AAAAAAAAAAg/qOywEKwt6uU/S220/Sunset.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
